Selasa, 11 Januari 2011

PENYAKIT DIARE

Bab 1

Pembahasan

Penyakit diare dengan menggunakan five level prevention

1.1 Promosi kesehatan ( health promotion )

Diare

Diare adalah peningkatan dalam frekwensi gerakan-gerakan usus atau pengurangan dalam bentuk tinja (kelonggaran yang lebih besar dari tinja). Meskipun perubahan-perubahan dalam frekwensi gerakan-gerakan usus dan kelonggara-kelonggaran tinja dapat bervariasi dengan bebas dari satu sama lainnya, perubahan-perubahan seringkali terjadi pada kedua-duanya.

Diare perlu dibedakan dari empat kondisi lain yang dapat dikacaukan dengan diare. Meskipun kondisi-kondisi ini mungkin menyertai diare, mereka seringkali mempunyai penyebab-penyebab yang berbeda dan perawatan-perawatan yang berbeda daripada diare. Kondisi-kondisi lain ini adalah:

  1. ketidaktahanan feces (tinja), yang adalah ketidakmampuan untuk mengontrol (menunda) membuang air besar hingga waktu yang tepat, yaitu, hingga seseorang dapat ke toilet
  2. urgensi rektum, yang adalah dorongan tiba-tiba untuk membuang air besar yang adalah begitu kuat sehingga jika toilet tidak segera tersedia akan ada ketidaktahanan membuang air besar
  3. pengosongan yang tidak sempurna, yang adalah perasaan bahwa membuang air besar lagi adalah perlu segera setelah membuang air besar, namun ada kesulitan untuk mengeluarkan lebih jauh feces untuk kedua kalinya
  4. membuang air besar segera setelah makan

Bagaimana Diare Ditentukan ?

Diare dapat ditentukan dalam istilah-istilah yang absolut atau relatif berdasarkan pada frekwensi buang air besar atau konsistensi (kelonggaran) dari feces-feces.

Frekwensi buang air besar.

Diare absolut mempunyai buang air besar yang lebih banyak daripada normal. Jadi, karena diantara individu-individu yang sehat jumlah maksimum dari buang air besar harian adalah kira-kira tiga kali, diare dapat ditentukan sebagai jumlah apa saja dari buang air besar yang lebih besar dari tiga kali. Diare relatif mempunyai lebih banyak buang air besar daripada biasanya.

Jadi, jika seorang individu yang biasanya mempunyai satu kali buang air besar setiap hari mulai mempunyai dua kali buang air besar setiap hari, maka diare hadir - meskipun tidak ada lebih dari tiga kali buang air besar dalam sehari, itulah, tidak ada diare absolut.

Konsistensi dari feces-feces.

Diare absolut adalah lebih sulit untuk ditentukan pada basis dari konsistensi feces karena konsistensi feces dapat dengan sangat berbeda pada individu-individu yang sehat tergantung pada diet-diet mereka. Jadi, individu-individu yang memakan jumlah-jumlah yang besar dari sayur-sayuran akan mempunyai feces-feces yang longgar daripada individu-individu yang memakan sedikit sayur-sayuran.

Feces-feces yang adalah cair atau berair adalah selalu abnormal dan dipertimbangkan sebagai diare. Diare relatif adalah lebih mudah untuk ditentukan berdasarkan pada konsistensi dari feces. Jadi, seseorang yang mengembangkan feces-feces yang lebih longgar daripada biasanya mempunyai diare - meskipun feces-feces mungkin ada dalam batasan normal dengan respek pada konsistensi.

Diare atau mencret, merupa-kan penyakit yang sudah dikenal oleh semua orang. Penyakit ini mudah dikenali, karena gejalanya sangat jelas yaitu, buang air besar yang lebih sering dari biasanya, dengan tinja yang lembek sampai cair. Kemudian penderita akan merasa lemas, perut sakit/ mules, terkadang disertai pula dengan mual dan muntah, panas, serta sakit kepala. Bahkan ada pula yang diarenya kemudian bercampur darah dan lendir.

Di negara berkembang, diare masih merupakan penyakit yang sangat sering terjadi, khususnya pada balita. Secara keseluruhan, rata-rata mengalami 3 kali episode diare per tahun. Bahkan di beberapa daerah dapat lebih dari 9 kali per tahun. Jadi tidak mengherankan bila masyarakat sudah sangat mengenal penyakit ini. Menurut Depkes, di Indonesia setiap anak mengalami diare rata-rata 1 sampai 2 kali setahun. Diare merupakan salah satu penyebab dari kekurangan gizi.


Hal ini disebabkan adanya anoreksia (tidak ada nafsu makan) pada penderita, dan kemampuan tubuh untuk menyerap sari makanan berkurang. Padahal, sebetulnya saat orang sedang menderita diare justru kebutuhan sari makanan meningkat dikarenakan adanya infeksi. Perlu diketahui, setiap episode diare akan menyebabkan kekurangan gizi, sehingga bila episode diare berkepanjangan, maka akan sangat berdampak pada status gizinya, yang tentu saja akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.


KAPAN DISEBUT DIARE ?

Diare menurut definisinya adalah, keluarnya tinja yang lunak atau cair sebanyak tiga kali atau lebih dalam satu hari. Tetapi definisi tidak bisa dipakai pada bayi umur beberapa minggu, ini dikarenakan bayi yang hanya minum air susu ibu (ASI), berak atau buang air besarnya bisa 6-8 kali sehari, dengan kondisi tinja yang lunak atau agak cair. Pada bayi, ini sesuatu yang normal.

Berdasarkan hal tersebut, secara praktis diare pada anak bisa didefinisikan sebagai meningkatnya frekuensi tinja atau konsistensinya menjadi lebih lunak dari biasanya, sehingga hal itu dianggap tidak normal oleh ibunya. Secara klinik, diare bisa dibedakan menjadi 3 macam yaitu, diare cair akut, disentri, dan diare persisten.

Diare cair akut adalah diare yang terjadi secara akut, dan berlangsung kurang dari 14 hari (bahkan kebanyakan kurang dari 7 hari), dengan tinja yang lunak atau cair yang sering dan tanpa darah, terkadang bisa disertai muntah dan panas. Diare ini sering disebabkan karena rotavirus. Kuman yang lain misalnya E. Coli, V. Cholera,dll

Disentri adalah diare yang disertai darah dalam tinja. Hal ini disebabkan karena adanya kerusakan dinding bagian dalam usus karena adanya bakteri yang mampu menembus dinding usus. Disentri ini sering disebabkan karena adanya bakteri Sigella, Amoeba, E.Coli.

Diare persisten adalah diare yang mula-mula bersifat akut, namun berlangsung lebih dari 14 hari. Dapat dimulai sebagai diare cair akut atau disentri. Diare persisten sering disebabkan oleh beberapa bakteri/ kuman yang masuk dalam tubuh seorang anak.

PENULARAN DIARE

Kuman diare biasanya menular melalui mulut, bisa melalui makanan/ minuman yang tercemar tinja, atau kontak langsung dengan tinja penderita. Pada saat musim buah (mangga, durian, rambutan) dan musim hujan seperti saat ini, maka lalat biasanya juga menjadi banyak, sehingga sangat berperan dalam penularan penyakit diare. Apabila lalat hinggap di tinja kemudian hinggap di makanan/ alat makan, maka akan bisa menularkan pada anak yang memakan makanan tadi.

Untuk mencegah atau agar makanan tidak dihinggapi lalat, maka lebih baik menutup setiap makanan yang adaSedangkan untuk mencegah penularan, hendaknya setiap kali member-sihkan tinja anak yang menderita diare, harus segera cuci tangan. Selain itu jangan menganggap bahwa tinja bayi yang diare itu tidak berbahaya, karena sesungguhnya tinja bayi tadi kenyataannya mengandung virus atau bakteri.

1.2 Perlindungan khusus ( Spesific Protection )

1) Pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif, sampai umur 4 - 6 bulan.


Pemberian ASI mempunyai banyak keuntungan bagi bayi atau ibunya. Bayi yang mendapat ASI lebih sedikit dan lebih ringan episode diarenya dan lebih rendah risiko kematiannya jika dibanding bayi yang tidak mendapat ASI. Dalam 6 bulan pertama, kehidupan risiko mendapat diare yang membutuhkan perawatan dirumah sakit dapat mencapai 30 kali lebih besar pada bayi yang tidak disusui daripada bayi yang mendapat ASI penuh.

Hal ini disebabkan karena ASI tidak membutuhkan botol, dot, dan air, yang mudah terkontaminasi dengan bakteri yang mungkin menyebabkan diare. ASI juga mengandung antibodi yang melindungi bayi terhadap infeksi terutama diare, yang tidak terdapat pada susu sapi atau formula. Saat usia bayi mencapai 4 - 6 bulan, bayi harus menerima buah-buahan dan makanan lain untuk memenuhi kebutuhan gizi yang meningkat, tetapi ASI harus tetap terus diberikan paling tidak sampai umur 2 tahun.

2. Hindarkan penggunaan susu botol.


Seringkali para ibu membuat susu yang tidak langsung habis sekali minum, sehingga memungkinkan tumbuhnya bakteri. Juga dot yang jatuh, langsung diberikan bayi, tanpa dicuci. Botol juga harus dicuci dan direbus untuk mencegah pertumbuhan kuman.

3. Penyimpanan dan penyiapan makanan pendamping ASI dengan baik, untuk mengurangi paparan dan perkembangan bakteri.

4. Penggunaan air bersih untuk minum.

Pasokan air yang cukup, bisa membantu membiasakan hidup bersih seperti cuci tangan, mencuci peralatan makan, membersihkan WC dan kamar mandi.



5. Mencuci tangan (sesudah buang air besar dan membuang tinja bayi, sebelum menyiapkan makanan atau makan).

6. Membuang tinja, termasuk tinja bayi secara benar.

Tinja merupakan sumber infeksi bagi orang lain. Keadaan ini terjadi baik pada yang diare maupun yang terinfeksi tanpa gejala. Oleh karena itu pembuangan tinja anak merupakan aspek penting pencegahan diare.


7. Imunisasi Campak.

Anak-anak yang menderita campak mempunyai resiko lebih tinggi untuk terjangkit diare atau disentri yang berat dan fatal. Karena kuatnya hubungan antara campak dan diare, imunisasi campak yang diberikan dapat mencegah sampai 25 % kematian balita.

YANG PERLU DIWASPADAI DAN DILAKUKAN

Akibat diare pada anak yang sering kali bersifat fatal adalah, keadaan yang disebut dengan dehidrasi, yaitu hilangnya cairan dan elektrolit dari tubuh akibat diare yang tidak bisa diimbangi dengan pemasukkan cairan lewat mulut (minum). Hal ini disebabkan karena jumlah cairan yang keluar lebih banyak dibanding yang bisa masuk, sebagai akibat adanya muntah atau memang terlalu berat diarenya. Terapi dirumah adalah bagian yang penting dari tatalaksana dari diare agar anak tidak dehidrasi. Bila anak mengalami diare, beri cairan lebih banyak dari biasanya, untuk mencegah dehidrasi.


Bermacam-macam cairan bisa diberikan sebagai pengobatan dini untuk mencegah dehidrasi. Beberapa macam cairan keluarga bisa berupa air tajin, sup, atau yoghurt. Tetapi bila ada, berilah oralit yang sudah banyak tersedia di apotik/toko obat. Apabila anak masih minum ASI, tetap harus diberikan tanpa batas, semau anak. Bila sudah mendapat makanan pendamping ASI (yang berumur lebih dari 4 -6 bulan), makanan tetap harus diberikan, untuk mencegah kekurangan gizi, sedikitnya 6 kali sehari. Sebaiknya menghindari teh yang sangat manis, kopi, soft drink dan minuman buah komersial yang manis, karena akan memperparah diarenya

. Apabila tinja yang keluar cair dan amat sering, muntah berulang, anak tidak dapat makan/minum seperti biasanya, harus diwaspadai; sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit. Apalagi bila sudah tampak tanda-tanda dehidrasi (anak rewel,gelisah,nampak kehausan, mata cekung, bibir kering, kencing berkurang, badan panas, nafas yang cepat) anak sudah memerlukan cairan infus untuk mengejar kehilangan cairan akibat diare/muntah.


Sebaiknya jangan sampai terlambat membawa ke rumah sakit. Karena apabila sudah jatuh ke dalam keadaan dehidrasi berat, akan lebih sulit untuk mengatasinya. Ini disebabkan karena semua pembuluh darahnya mengempis, sel-sel tubuh akan rusak/ mati, sehingga sangat besar kemungkinan untuk terjadi kematian. Tentunya kita tidak ingin kehilangan anak- anak kita akibat diare.

Diare sebetulnya tidak akan berakibat fatal apabila tidak terlambat dalam pemberian cairan untuk mengatasi dehidrasi. Karena kematian pada diare adalah disebabkan karena dehidrasi ini. Jadi yang penting dilakukan pada anak yang diare adalah mencegah jangan sampai mengalami dehidrasi. Tetapi hal yang paling baik adalah mencegah jangan sampai mengalami diare. Bukankah pencegahan itu lebih baik dari pada mengobati?

3. Diagnosis dini dan pengobatan segera ( Early Diagnosis and Prompt Treatment )

Pertama-tama, dipastikan dulu apakah diarenya timbul tiba-tiba dan untuk sementara waktu atau menetap. Dilihat juga apakah:

  • Penyebabnya adalah perubahan makanan
  • Terdapat gejala lain seperti demam, nyeri dan ruam kulit
  • Ada orang lain yang juga memiliki gejala yang sama.

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan contoh tinja. Pemeriksaan tinja meliputi bentuknya (cair atau padat), baunya, ditemukannya lemak, darah atau zat-zat yang tidak dapat dicerna, dan jumlahnya dalam 24 jam.

Bila diare menetap, dilakukan pemeriksaan mikroskopik tinja untuk:

  • Mencari sel-sel, lendir, lemak dan bahan lainnya
  • Menemukan darah dan bahan tertentu yang menyebabkan diare osmotik
  • Mencari organisme infeksius, termasuk bakteri tertentu, amuba dan Giardia.

Bila secara sembunyi-sembunyi mengkonsumsi pencahar, maka pencahar yang diminum bisa ditemukan dalam contoh tinja.Untuk memeriksa lapisan rektum dan anus dapat dilakukan sigmoidoiskopi. Kadang-kadang perlu dilakukan biopsi (pengambilan contoh lapisan rektum untuk pemeriksaan mikroskop)

Diare dapat dicegah dengan cara menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Adapun cara pencegehan diare dapat dilakukan dengan cara:

  1. Mencuci tangan pakai sabun dengan benar pada lima waktu penting yaitu:

1) sebelum makan ,

2) setelah buang air besar,

3) sebelum memegang bayi,

4) setelah menceboki anak dan

5) sebelum menyiapkan makanan;

  1. Meminum air minum sehat, atau air yang telah diolah, antara lain dengan cara merebus, pemanasan dengan sinar matahari atau proses klorinasi;
  2. Pengelolaan sampah yang baik supaya makanan tidak tercemar serangga (lalat, kecoa, kutu, lipas, dan lain-lain);
  3. Membuang air besar dan air kecil pada tempatnya, sebaiknya menggunakan jamban dengan tangki septik.

4.Pembatasan cacat ( Disability Limitation )

Diare merupakan suatu gejala dan pengobatannya tergantung pada penyebabnya. Kebanyakan penderita diare hanya perlu menghilangkan penyebabnya, misalnya permen karet diet atau obat-obatan tertentu, untuk menghentikan diare.Kadang-kadang diare menahun akan sembuh jika orang berhenti minum kopi atau minuman cola yang mengandung cafein.

Untuk membantu meringankan diare, diberikan obat seperti difenoksilat, codein, paregorik (opium tinctur) atau loperamide. Kadang-kadang, bulking agents yang digunakan pada konstipasi menahun (psillium atau metilselulosa) bisa membantu meringankan diare Untuk membantu mengeraskan tinja bisa diberikan kaolin, pektin dan attapulgit aktif.

Bila diarenya berat sampai menyebabkan dehidrasi, maka penderita perlu dirawat di rumah sakit dan diberikan cairan pengganti dan garam melalui infus. Selama tidak muntah dan tidak mual, bisa diberikan larutan yang mengandung air, gula dan garam.

Jika seseorang atau balita telah terserang diare, langkah awal yang dapat dilakukan adalah:

  1. Berikan minum dan makan secara normal untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang;
  2. Untuk bayi dan balita, teruskan minum ASI (Air Susu Ibu);
  3. Berikan garam Oralit.

Segeralah priksakan penderita ke dokter apabila diare berkelanjutan untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan.

Pencegahan Dan Perawatan Dehidrasi

Oral rehydration solutions (ORS) adalah cairan-cairan yang mengandung karbohidrat (glucose atau rice syrup) dan elektrolit-elektrolit (sodium, potassium, chloride, dan citrate atau bicarbonate).

Mula-mula, the World Health Organization (WHO) mengembangkan WHO-ORS untuk secara cepat rehydrate (menggantikan cairan) korban-korban dari penyakit diare yang parah, cholera. Larutan WHO-ORS mengandung glucose dan elektrolit-elektrolit. Glucose dalam larutan adalah penting karena ia memaksa usus kecil untuk menyerap dengan cepat cairan dan elektrolit-elektrolit.

Tujuan dari elektrolit-elektrolit dalam larutan adalah pencegahan dan perawatan dari kekurangan-kekurangan elektrolit. Di Amerika, produk-produk ORS komersial yang menyenangkan dan telah dicampur yang adalah serupa dengan WHO-ORS tersedia untuk rehydration dan pencegahan dehidrasi. Contoh-contoh dari produk-produk ini adalah Pedialyte, Rehydralyte, Infalyte, dan Resol.

Kebanyakan dari produk-produk ORS yang tersedia secara komersial di Amerika mengandung glucose. Infalyte adalah satu-satunya yang mengandung karobohidrat nasi sebagai gantinya glucose. Kebanyakan dokter-dokter percaya bahwa tidak ada perbedaan-perbedaan yang penting dalam keefektifan antara glucose dan karbohidrat nasi.

Bayi-bayi dan anak-anak muda. Kebanyakan diare akut pada bayi-bayi dan anak-anak muda disebabkan oleh viral gastroenteritis dan biasanya berlangsung singkat. Antibioti-k-antibiotik tidak diresepkan secara rutin untuk viral gastroenteritis. Bagaimanapun, demam, muntah, dan feces-feces yang longgar dapat menjadi gejala-gejala dari infeksi-infeksi masa kanak-kanak lain seperti otitis media (infeksi telinga tengah), pneumonia, infeksi kantong kemih, sepsis (infeksi bakteri dalam darah) dan meningitis. Penyakit-penyakit ini mungkin memerlukan perawatan antibiotik yang dini.

Bayi-bayi dengan diare akut juga dapat secara cepat menjadi kekurangan cairan (dehidrasi) yang parah dan oleh karenanya memerlukan rehydration (penggantian cairan dan elektrolit) yang dini. Untuk sebab-sebab ini, bayi-bayi yang sakit dengan diare harus dievaluasi oleh dokter-dokter anak mereka untuk mengidentifikasi dan merawat infeksi-infeksi yang mendasarinya dan juga untuk menyediakan instruksi-instruksi pada penggunaan yang tepat dari produk-produk rehydration oral.

Bayi-bayi dengan dehidrasi yang sedang sampai parah biasanya dirawat dengan cairan-cairan intravena di rumah sakit. Dokter anak (pediatrician) mungkin memutuskan untuk merawat bayi-bayi yang dehidrasi (kekurangan cairan dan elektrolit) ringan yang disebabkan oleh viral gastroenteritis di rumah dengan ORS.

Bayi-bayi yang dinyusui asi atau diberi susu formula harus melanjutkan untuk menerima susu asi selama fase rehydration dari penyakitnya jika tidak dicegah oleh muntah. Selama, dan untuk waktu yang singkat setelah sembuh dari viral gastroenteritis, bayi-bayi dapat menjadi tidak mentolerir lactose yang disebabkan oleh kekurangan sementara dari enzim, lactase (perlu untukmencerna lactose dalam susu) dalam usus kecil.

Pasien-pasien dengan ketidaktoleranan lactose dapat mengembangkan diare yang memnuruk dan kejang-kejang ketika diberikan produk-produk susu. Oleh karenanya, setelah rehydration dengan ORS, susu formula yang bebas lactose yang tidak diencerkan dan juice-juice yang diencerkan direkomendasikan. Produk-produk susu dapat secara berangsur-angsur ditingkatkan ketika bayi membaik.

ORS dapat digunakan untuk diare yang parahnya sedang yang disertai oleh dehidrasi pada anak-anak yang lebih tua dari umur 10 tahun dan pada kaum dewasa. Larutan-larutan ini diberikan pada 50 ml/kg dalam waktu 4-6 jam untuk dehidrasi ringan atau 100 ml/kg dalam 6 jam untuk dehidrasi sedang. Setelah rehydration, larutan ORS dapat digunakan untuk memelihara hidrasi pada 100 ml- 200 ml/kg dalam 24 jam hingga diare berhenti.

Petunjuk-petunjuk pada label larutan biasanya menyatakan jumlah-jumlah yang tepat. Setelah rehydration, anak-anak yang lebih tua dan kaum dewasa harus memulai lagi makanan solid sesegera segala mual dan muntah hilang. Makanan solid harus mulai dengan nasi, cereal, pisang-pisang, kentang-kentang, dan produk-produk yang bebas lactose dan rendah lemak. Keragaman dari makanan-makanan dapat diperluas ketika diare berhenti.

5.Rehabilitasi ( Rehabilitation )

Rehidrasi adalah upaya menggantikan cairan tubuh yang keluar bersama tinja dengan cairan yang memadai melalui oral atau parenteral Cairan rehidrasi oral yang dipakai oleh masyarakat adalah air kelapa, air tajin, air susu ibu, air the encer, sup wortel, air perasan buah dan larutan gula garam (LGG). Pemakaian cairan ini lebih dititik beratkan pada pencegahan timbulnya dehidrasi. Sedangkan bila terjadi dehidrasi sedang atau berat sebaiknya diberi minuman Oralit. Oralit yang menurut WHO mempunyai komposisi campuran Natrium Klorida, Kalium Klorida, Glukosa dan Natrium Bikarbonat atau Natrium Sitrat sekarang dijual dengan berbagai merek dagang seperti Cymatrolit, Eltolit, Ottolyte, Kritallyte danAqualite mengandung komposisi yang sama.

Tatalaksana penderita diare yang tepat dan efektif merupakan bagian penting dalam pemberantasan penyakit diare khsususnya dalam upaya menurunkan angka kematian diare dan mengurangi komplikasi akibat diare. Selain daripada itu tatalaksana penderita yang berhasil akan pula menjadi pintu masuk promosi kesehatan lain dan kegiatan kesehatan lingkungan lain dalam rangka menurunkan angka kesakitan diare. Menurut Keputusan Seminar Nasional Pemberantasan Diare prinsip tata laksana diare adalah sebagai berikut :

1.Rencana Terapi A (Terapi diaretanpa dehidrasi di rumah) :

Dalam tatalaksana diare di rumah: Jika anak tidak diberi ASI maka susu formula tetap diberikan. Jika berumur kurang dari 6 bulan dan belum mendapat makanan padat berikan susu formula selang-seling dengan Oralit/cairan rumah tangga.

2. Rencana Terapi B (Terapi diare dengan dehidrasi ringan/sedang) :

a. Dalam pemberian cairan Oralit pada 4 jam pertama : untuk anak di bawah usia 6 bulan yang tidak diberi ASI, berikan 100-200 ml susu selang-seling dengan Oralit/

cairan rumah tangga.

b. Dalam mengobservasi anak dan membantu ibu memberikan cairan Oralit, bila mata sembab pemberian Oralit dihentikan.

3. Rencana Terapi C (untuk diare dengan dehidrasi berat) :

Terapi intravena Ringer Laktat bila diperlukan pada bayi setelah 1 jam pertama, diberikan 30 mg/kg dan dapat dilanjutkan untuk 5 jam berikutnya 70 mg/kg berat badan. Untuk anak-anak dan dewasa diberikan Ringer Laktat secara intravena dengan dosis 100 mg/kg berat badan (Greene 1980). Obat-obat lain yang sering dikombinasikan dengan Oralit pada diare akut adalah Tetrasiklin,Trimetoprim, Metronidazol




Tidak ada komentar:

Posting Komentar