PEMBAHASAN KONSEP KESADARAN
1. Pengertian kesadaran
Secara harfiah, kesadaran sama artinya dengan mawas diri (awareness). Kesadaran juga bisa diartikan sebagai kondisi dimana seorang individu memilikikendali penuh terhadap stimulus internalmaupun stimulus eksternal. Namun, kesadaran juga mencakup dalam persepsi dan pemikiran yang secara samar-samar disadari oleh individu sehingga akhirnya perhatiannya terpusat.
2. Diri
Diri dibagi atas 2 subsistem :
•Konsep diri yaitu penggabungan seluruh aspek keberadaan dan pengalaman seseorang yang disadari oleh individual (meski tidak selalu akurat).
•Diri ideal yaitu cita-cita seseorang akan diri.
Terjadinya kesenjangan akan menyebabkan ketidak-seimbangan dan kepribadian menjadi tidak sehat.
Ada 3 tingkat kesadaran.
- Pengalaman yang dirasakan dibawah ambang sadar akan ditolak atau disangkal.
- Pengalaman yang dapat diaktualisasikan secara simbolis akan secara langsung diakui oleh struktur diri.
- Pengalaman yang dirasakan dalam bentuk distorsi. Jika pengalaman yang dirasakan tidak sesuai dengan diri (self), maka dibentuk kembali dan didistorsikan sehingga dapat diasimilasikan oleh konsep diri.
Ada dua macam kesadaran, yaitu:
1. Kesadaran Pasif
Kesadaran pasif adalah keadaan dimana seorang individu bersikap menerima segala stimulus yang diberikan pada saat itu, baik stimulus internal maupun eksternal.
2. Kesadaran Aktif
Kesadaran aktif adalah kondisi dimana seseorang menitikberatkan pada inisiatif dan mencari dan dapat menyeleksi stimulus-stimulus yang diberikan.
3.Teori kesadaran Menurut Carl G Jung
Kesadaran menurut Jung terdiri dari 3 sistem yang saling berhubungan yaitu kesadaran atau biasa disebut:
1. Ego
Ego merupakan jiwa sadar yang terdiri dari persepsi, ingatan, pikiran dan perasaan-perasaan sadar. Ego bekerja pada tingkat conscious Dari ego lahir perasaan identitas dan kontinyuitas seseorang. Ego seseorang adalah gugusan tingkah laku yang umumnya dimiliki dan ditampilkan secara sadar oleh orang-orang dalam suatu masyarakat. Ego merupakan bagian manusia yang membuat ia sadar pada dirinya.
2.Personal Unconscious
Struktur psyche ini merupakan wilayah yang berdekatan dengan ego. Terdiri dari pengalamanpengalaman yang pernah disadari tetapi dilupakan dan diabaikan dengan cara repression atau suppression. Pengalaman-pengalaman yang kesannya lemah juga disimpan kedalam personal unconscious. Penekanan kenangan pahit kedalam personal unconscious dapat dilakukan oleh diri sendiri secara mekanik namun bisa juga karena desakan dari pihak luar yang kuat dan lebih berkuasa.
3.Collective Unconscious
Merupakan gudang bekas ingatan yang diwariskan dari masa lampau leluhur seseorang yang tidak hanya meliputi sejarah ras manusia sebagai sebuah spesies tersendiri tetapi juga leluhur pramanusiawi atau nenek moyang binatangnya.
Carl Gustav Jung (Hall & Lindzey, 1993, h. 191-192 dan Suryabrata, 2002, h. 179-181) yang menyebutkan bahwa self merupakan kesatuan total dan merupakan titik pusat kepribadian. Self mempersatukan sistem-sistem dalam kepribadian dan memberikan kepribadian kesatuan, keseimbangan dan kestabilan. Self memotivasikan tingkah laku dan menyebabkan orang mencari kebulatan dan kesatuan. Sebelum self muncul, berbagai komponen kepribadian harus terlebih dulu berkembang sepenuhnya dan terindividuasikan. Proses individuasi ini merupakan proses penemuan diri, dimana semua aspek kepribadian harus mengalami diferensiasi dan berkembang sepenuhnya. Karena alasan ini, arkhetipe self tidak akan tampak sebelum orang mencapai usia setengah baya.
Kepribadian mempunyai kecenderungan untuk berkembang ke arah suatu kebulatan yang stabil, dan perkembangan adalah semacam pembeberan kebulatan asli yang semula tak punya diferensiasi dan tujuan. Pembeberan inilah yang dinamakan sebagai proses penemuan diri. Fase-fase proses penemuan diri tersebut dijelaskan oleh Jung (Suryabrata, 2002, h. 180) sebagai berikut:
- Membuat sadar fungsi-fungsi pokok serta sikap jiwa yang ada dalam ketidaksadaran. Ini akan mengurangi tegangan batin dan peningkatan kemampuan mengadakan orientasi dan penyesuaian diri.
- Melihat kemampuan diri yang diproyeksikan.
- Menyadari bahwa dalam hidup selalu ada hal yang berlawanan, sehingga diharapkan dapat menghadapi dan mengatasinya.
- Ada hubungan yang selaras antara kesadaran dan ketidaksadaran. Inilah fase dimana akan tercapai suatu “diri”.
Menurut Jung, Self adalah titik pusat kepribadian, yang menerangi, menghubungkan, dan mengkoordinasikan seluruh aspek kepribadian yang meliputi persona, aku, bayang-bayang, dan anima-animus.
Persona merupakan kompromi antara individu dengan masyarakat, antara struktur batin sendiri dengan tuntutan-tuntutan sekitar mengenai bagaimana seharusnya orang berbuat. Bila individu memiliki penyesuaian diri yang baik, maka persona merupakan suatu selubung elastis, dan sebaliknya persona dapat menjadi topeng untuk menutupi kelemahan. Bayang-bayang adalah kekurangan atau kelemahan yang tidak disadari. Anima dan animus adalah bentuk ketidaksadaran yang berhubungan dengan jenis kelamin.
Singkatnya, bagi Jung, diri adalah titik pusat kepribadian, di sekitar mana semua sistem lain terkonstelasikan. Ia mempersatukan sistem-sistem ini dan memberikan kepribadian dengan kesatuan, keseimbangan dan kestabilan pada kepribadian. Dengan demikian diri merupakan kesatuan total, dan bahwasanya perjuangan manusia adalah menuju pada kesatuan. Diri adalah tujuan hidup, suatu tujuan yang terus-menerus diperjuangkan orang tetapi yang jarang tercapai.
Diri adalah arkhetipe yang memotivasikan tingkah laku dan menyebabkan orang mencari kebulatan, khususnya melalui cara-cara yang disediakan oleh agama (missal pengalaman religius sejati).
Yang selalu diingat bahwa sifat dasar manusia adalah positif, karena pada dasarnya bergerak ke arah pendewasaan, sosialisasi, dan aktualisasi diri. Individu mengalami pertumbuhan, yaitu individu selalu dalam keadaan menjadi. Sepanjang kehidupan, individu mengalami perubahan, dimana perubahan merupakan hasil dari pendewasaan dan belajar. Arah perubahan merupakan gerakan yang menuju pada “diri yang sebenarnya”.
Menurut Jung, manusia dilahirkan dengan berbagai predisposisi yang telah diwariskan oleh nenek moyangnya (generasi sebelumnya). Predisposisi ini menuntun tingkah lakunya dan menentukan apa yang akan dia sadari dan respon terhadap dunia. Dengan kata lain, ada bentukan rasial dan kepribadian kolektif yang dapat mencapai kesadaran (secara selektif) dan dimodifikasi, diproses oleh pengalaman sekarang (pengalaman pribadi).
Dalam teorinya, Jung membagi jiwa (psyche) menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah ego yang diidentifikasikan sebagai alam bawah sadar. Bagian kedua, yang terkait erat dengan yang pertama adalah alam bawah sadar personal, yang mencakup segala sesuatu yang tidak disadari. Dan bagian ketiga yaitu alam bawah sadar kolektif atau warisan psikis : tumpukan pengalam kita sebagai spesies, semacam pengetahuan bersama yang kita miliki sejak lahir.
Menurut teori kepribadian Jung terdapat dua orientasi umum yang bisa dilakukan oleh kepribadian (psyche) dalam berhubungan dengan dunia, yaitu :
1. Introversi
Orientasi kedalam dunia subyektif.
Sifatnya : pendiam, imaginative, lebih tertarik pada idea-idea daripada terhadap manusia.
2. Ekstroversi
Orientasi keluar, kelingkingan luar (objektif).
Sifatnya : mudah bergaul, lebih tertarik kepada manusia daripada benda-benda atau ide-ide, terbuka.
Fungsi jiwa : menunjukan bagaimana seseorang memnadang dunia dan bagaimana dia menggunakan informasi dan pengalaman (bagian dari individu yang berespon terhadap lingkungan berdasarkan pengalaman yang ia miliki).
Ada 4 fungsi :
1. Sensing : fungsi perceptual atau realitas.
2. Thinking : intelektual, dengan thinking seseorang berusaha untuk memahami hakekat sosial.
3. Feeling : fungsi evaluasi, nilai dari suatu apakah positif / negative
4. Intuition : persepsi melalui proses unconscious dan konten-konten subliminal.
Dengan mengkombinasikan 2 attitude dan 4 fungsi, Jung menguraikan 8 tipe manusia, yaitu :
1. Thinking ekstrovert :
Hidup mengikuti peraturan yang pasti. Objektif dan dingin. Pemikirannya positif dan dogmatic.
2. Feeling ekstrovert :
Sangat emosional dan sangat menghormati otoritas dan tradisi. Mudah bergaul dan mencari harmoni dengan dunia.
3. Sensing ekstrovert :
Mencari kesenangan, riang, mudah menyesuaikan diri, secara konstan mencari pengalaman-pengalaman sensoris yang baru, sangat mungkin tertarik pada makanan yang baik dan seni, sangat realistis.
4. Intuition ekstrovert :
Keputusan dilandasi oleh penelusuran dan bukan fakta, sangat mudah berubah dan kreatif, tidak tahan dengan satu ide terlalu lama, lebih suka beralih dari satu id eke ide yang lain, sangat mengenal unconscious dirinya
5. Thingking introvert :
Sangat menghargai privasi, terhambat secara social dan penilaiannya payah, merupakan seorang yang sangat intelek yang mengabaikan segi praktis dalam kehidupan sehari-hari.
6. Feeling introvert :
Pendiam, pemikir, sangat peka, kekanak-kanakan, tidak mempedulikan perasaan dan pendapat orang lain, emosi sangat kurang.
7. Sensing introvert :
Kehidupannya hanya diarahkan oleh apa yang terjadi, artistic, pasif dan kalem. Menghindari “ Human Affair” karena dia juga lebih mempedulikan apa yang terjadi.
8. Intuition introvert :
Aneh, eksentrik, suka menciptakan ide baru tapi aneh, sulit dimengerti oleh orang lain tapi tidak menjadi masalah, hidupnya dipengaruhi oleh pengalaman-pengalam subjektifnya.
Jadi, kenalilah dirimu dan aktualisasikan dirimu untuk mengenal dirimu sendiri sebagai jalan untuk mengenal Tuhanmu!

