PEMBAHASAN INFEKSI PENYAKIT HIV, AIDS
(EXOGEN)
1.ldentifikasi Acquired lmmunodeficiency Syndrome
AIDS adalah terminologi sindroma penyakit yang pertama kali digunakan oleh para ahli epidemiologi terhadap sekelompok orang dewasa yang kehilangan imunitas seluler tanpa sebab yang jelas pada tahun 1981. Sindroma ini menggambarkan tahap klinis akhir dari infeksi HlV. Beberapa minggu hingga beberapa bulan sesudah terinfeksi, sebagian orang akan mengalami penyakit self-limited mononucleosis-like akut yang akan berlangsung selama I atau 2 minggu. Orang yang terinfeksi mungkin tidak menunjukkan tanda atau simplom selama beberapa bulan atau tahun sebelum manifestasi klinis lain muncul. Berat ringannya infeksi "opportunistic" atau munculnya kanker setelah terinfeksi HlV, secara umum terkait langsung dengan derajat kerusakan sistem kekebalan yang diakibatkannya. Definisi AIDS yang dikembangkan oleh CDC Atlanta tahun 1982 memasukkan lebih dari selusin infeksi 'bpportunistics" dan beberapa jenis kanker sebagai indikator spesifik akibat dari menurunnya kekebalan tubuh.
Apabila penegakan diagnosa didukung dengan pemeriksaan histologis/kultur standar, maka penyakit-penyakit ini dapat diterima sebagai definisi kasus AIDS asalkan penyebab defisiensi kekebalan lain tidak ditemukan. Di tahun 1987, definisi ini diperbaharui dan diperluas dengan memasukkan penyakit-penyakit indikator tambahan dan menerima beberapa penyakit indikator tersebut sebagai satu diagnosa presumtif bila tes laboratorium menunjukkan bukti adanya infeksi HlV. Di tahun 1993, CDC merubah kembali definisi surveilans dari AIDS dengan memasukkan penyakit indikator tambahan. Sebagai tambahan, semua orang yang terinfeksi HIV dengan CD4 + (hitung sel) < 2o}lcu mm atau pasien dengan CD4 + dan prosentase T-lymphocyte dari total lymphocyte < 14%, tanpa memperhatikan status klinis dianggap sebagai kasus AIDS.
Disamping kriteria rendahnya jumlah CD4, definisi CDC tahun 1993 secara umum sudah diterima untuk tujuan klinis di banyak negara maju, tetapi tetap terlalu kompleks bagi negaranegara berkembang. Negara-negara berkembang terkadang kekurangan fasilitas laboratorium yang memadai untuk pemeriksaan histologis atau diagnosis kultur bagi penyakit-penyakit indikator spesifik.
WHO merubah definisi kasus AIDS yang dirumuskan di Bangui, Afrika Tengah untuk digunakan dinegara berkembang pada tahun 1994: yaitu dengan menggabungkan tes serologi HIV, jika tersedia, dan termasuk beberapa penyakit indikator (seperti tuberkulosis, infeksi pneumococcus, salmonellosis non tifoid) sebagai pelengkap diagnostik bagi mereka yang seropositip. Pneumonia bakteriil adalah yang paling sering ditemukan. Manifestasi klinis dari HIV pada bayi dan balita tumpangtindih dengan imunodefisiensi turunan dan masalah kesehatan anak lainnya. CDC dan WHO telah mempublikasikan definisi kasus AIDS pada anak.
Proporsi orang yang terinfeksi HlV, tetapi tidak mendapat pengobatan anti- HIV dan akhirnya akan berkembang menjadi AIDS diperkirakan mencapai lebih dari 90 %. Karena tidak adanya pengobatan anti-HlV yang efektif, "case fatality rate" dari AIDS menjadi sangat tinggi, kebanyakan penderita di negara berkembang (80 - 90%) mati dalam 3 - 5 tahun sesudah didiagnosa terkena AIDS. Bagaimanapun, penggunaan obat-obatan profilaktik secara rutin untuk mencegah Pneumonia Pneumocystis cainii dan kemungkinan infeksi-infeksi lain di AS dan sebagain besar negara maju terbukti dapat menunda perkembangan AIDS dan mencegah kematian secara bermakna, mendahului tersedianya secara rutin obat anti-HlV yang efektif secara luas.
Tes serologis antibodi untuk HIV lersedia secara komersial sejak tahun 1985. Tes yang biasa digunakan, (ELISA/EIA) sangat sensitif dan spesifik. Namum walaupun tes ini hasilnya efektif, diperlukan tes tambahan lagi seperti Western Blot atau tes "indirect fluorescent antibody" (lFA). Tes tambahan dengan hasil negatif meniadakan tes EIA positif pertama; sedangkan jika hasilnya positif mendukung tes EIA positif pertama, dan hasil tes Western Blot yang meragukan membutuhkan evaluasi lanjutan.
WHO merekomendasikan sebagai alternatif penggunaan rutin Western Blot dan lFA, yaitu penggunaan tes lain yang secara metodologis dan atau secara antigen tidak tergantung pada tes awal ElA. Oleh karena hasil dari sebuah tes antibodi HIV yang positif sangat berarti bagi seseorang, maka direkomendasikan bahwa tes awal yang positif harus di konfirmasikan lagi dengan spesimen kedua dari pasien untuk mencegah kemungkinan terjadinya kesalahan pada pemberian label atau kesalahan penulisan hasil tes. Teknik pemeriksaan cepat darah dan transudat mukosa sangat membantu pelayanan laboratorium dan konseling. Strategi testing yang digunakan sangat tergantung pada tujuan dilakukannya testing.
Untuk tujuan surveilans, strategi testing yang diterapkan berbeda-beda tergantung tingkat prevalensi infeksi HlVdi suatu wilayah. Tes tunggal disarankan digunakan di wilayah dengan prevalensi > look; di wilayah dengan prevalensi < 1lo/o, minimal 2 tes yang berbeda dilakukan. Untuk tujuan diagnostik di daerah dengan prevalensi < 10%, 3 tes berbeda dilakukan untuk penderita asimptomatik, sedangkan untuk daerah dengan prevalensi > 10%, cukup dengan 2 jenis tes yang berbeda.
Pada umumnya, orang yang terinfeksi HIV akan membentuk antibodi yang terdeteksi dalam 1-3 bulan sesudah terinfeksi, kadang kala masa ini menjadi lebih panjang hingga 6 bulan, dan sangat jarang yang membentuk antibodi setelah 6 bulan. Tes lain untuk mendeteksi infeksi HIV selama periode sesudah terinfeksi namun belum terjadi serokonversi sudah tersedia, antara lain termasuk tes untuk sirkulasi antigen HIV (p2a) dan tes PCR untuk mendeteksi sequensi asam nukleik dari virus. Karena "window period" antara kemungkinan terdeteksinya virus yang paling cepat dan terjadinya serokonversi sangat pendek (< 2 minggu) maka diagnosa infeksi HIV dengan tes ini jarang dilakukan. Begitu pula tes ini kurang bermanfaat untuk mendiagnosa infeksi HIV pada bayi yang dilahirkan oleh wanita penderita AIDS, karena antibodi maternal anti-HlV yang diberikan secara pasif, kadang menyebabkan tes anti-HlV EIA pada bayi ini menunjukkan hasil "falsepositive" bahkan hingga umur'15 bulan.
Angka T-helper cell (CD4+) absolut atau persentasenya lebih sering digunakan untuk mengevaluasi beratnya infeksi HIV dan membantu para klinisi untuk memutuskan, terapi apa yang akan dilakukan. Tes beban virus (viral load fesf) saat ini telah tersedia, sebagai pertanda tambahan untuk mengikuti perjalanan penyakit serta reaksinya terhadap terapi. Perbedaan sensitivitas tes IEA dan tes lainnya seperti p24 antigenaemta membantu untuk mengetahui infeksi yang baru terjadi. Orang yang menunjukkan hasil positif terhadap tes yang sensitif dan negatif terhadap tes yang kurang sensitif kemungkinan infeksinya baru saja terjadi.
2. Penyebab penyakit
Virus Human lmmunodefisiensi (HlV) adalah sejenis retrovirus' Ada 2 tipe: tipe 1(HlV-'1 ) dan tipe 2 (HlV-2). Virus-virus ini secara serologis dan geografis relatif berbeda tetapi mempunyai ciri epidemiologis yang sama. Patogenisitas dari HIV-2 lebih rendah dibanding HIV-1. Kedua virus ini juga memiliki ciri genotipe dan fenotlpe yang berbeda dimana perjalanan penyakitnya lebih lambat dan penularan dari ibu ke anak lebih rendah pada HIV-2.
3.Distribusi penyakit
AIDS pertama kali dikenal pada tahun 1981 sebagai penyakit dengan entitas klinis yang aneh; namun secara retrospektif diketahui bahwa secara terbatas AIDS sudah muncul pada tahun 1970-an, bahkan mungkin lebih awal dari itu (ditemukan di Afrika, Eropa, Haiti dan AS). Catatan pada tahun 2003 dari perkiraan 40 juta (34 - 46 juta) orang yang terinfeksi HIV/AIDS di dunia, 25 - 28,2 juta orang ditemukan di daerah Sub-Sahara, 4,6 - 8,2 juta di Asia Selatan dan Asia Tenggara, 1,3 - 1,9 juta di Amerika Latin dan sekitar 800.000 - 1 juta orang di Amerika bagian Utara. Di seluruh dunia pada tahun 2003 diperkirakan orang yang meninggal karena AIDS sekitar 3,1 juta (2,5 - 3,5 luta) orang. Wabah infeksi HIV terus berlangsung, diperkirakan 5 juta (4,2 - 5,8 juta) infeksi baru terjadi, 2,5 juta (2,1 - 2,9 juta) anak hidup dengan HIV/AIDS. lnfeksi oleh virus HIV-1 yang paling umum terjadi, sedangkan infeksi oleh HIV-2 terjadi terutama di Afrika Barat dan di negara-negara lain yang secara epidemiologis berhubungan dengan Afrika Barat.
Dikebanyakan negara berkembang jumlah penderita AIDS lebih tinggi, namun sistem pelaporannya sangat lemah, upaya yang dilakukan lebih terfokus pada infeksi HIV daripada untuk menemukan penderita AIDS. Di beberapa negara maju distribusi penderita AIDS menurut faktor risiko dan perilaku telah banyak berubah selama sepuluh tahun terakhir sebagai contoh di AS walaupun wabah AIDS tetap menyerang terutama para homoseksual, namun pengguna NAPZA suntik (lntraveneous drug user/lDU) sumber utama penularan di negara maju lainnya seperti bekas negara Uni Soviet.
Di AS dan negara-negara industri lainnya insidensi HIV sempat menurun sebentar sebelum pertengahan tahun '1980-an, dan insidensi HIV ini bertahan tetap tetap rendah pa-da kebanyakan kelompok. Namun di negara-negara dengan insidensi HIV tinggi seperti di negara-negara Sub-sahara Afrika, insidensi tahunan HIV tetap tinggi tidak dapat diatasi. Di luar Sub-Sahara Afrika, jangka prevalensi HIV( >1%) ditemukan pada kelompok usia 15-49 tahun di Negara-negara Karibia, Asia Selatan dan Asia Tenggara.
4.Reservoir - manusia- Belakangan ini HIV diduga berasal dari virus Chimpanze.
5. Cara penularan
HIV dapat ditularkan dari orang ke orang melalui kontak seksual yang tidak dilindungi (baik homo maupun heteroseksual), penggunaan jarum dan Syringes yang terkontaminasi kontak dengan kulit yang lecet dengan sekret Atau bahan infeksius, transfusi darah atau komponen-komponennya yang terinfeksi; transplantasi dari organ dan jaringan yang terinfeksi HlV.
Sementara virus kadang-kadang ditemukan di air liur, air mata, urin dan sekret bronkial, penularin sesudah kontak dengan sekret ini belum pernah dilaporkan. Risiko dari penularan HIV melalui hubungan seks lebih rendah dibandingkan dengan Penyakit Menular seksual lainnya. Namun adanya penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual terutama penyakit seksual dengan luka seperti chancroid, besar kemungkinan dapat menjadi pencetus penularan HlV.
Determinan utama dari penularan melalui hubungan seksual adalah pola dan prevalensi dari orang -orang dengan "sexual risk behavior" seperti melakukan hubungan seks yang tidak terlindungi dengan banyak pasangan seks. carriers sering tanpa gejala, mereka tidak sadar akan status mereka. Tidak ada bukti epidemiologis atau laboratorium yang menyatakan bahwa gigitan serangga bisa menularkan infeksi HlV, iisiko penularan melalui seks oral tidak mudah diteliti, tapi diasumsikan sangat rendah.
Dari 15-35% bayi yang dilahirkan dari ibu dengan HIV (+) terinfeksi melalui plasenta pengobatan wanita hamil dengan antivirus seperti zidovudine mengurangi kejadian penularan kepada bayi (mother to child fransmission- MTCD secara bermakna. Sampai dengan tahun 1999 satu-satunya obat yang yang dapat mencegah infeksi perinatal adalah azidothimidine (AZT)' diberikan peroral pada kehamilan usia 14 minggu dan diteruskan sampai menjelang kelahiran; diberikan secara intravena pada saat melahirkan; diberikan secara oral pada bayl baru lahir pada 6 minggu pertama. cara-cara ini menurunkaqn transmisi perinatal sebesar 66%. Sedangkan pemberian AZT jangka pendek menurunkan angka transmisi 40%.
Hampir 50 % dari bayi yang'disusui oleh ibu dengan HIV (+) dapat tertular infeksi HlV. petugas feienatan yang terluka oleh jarum suntik atau benda tajam lainnya yang mengandung darah yang terinfeksi virus HlV, angka serokonversi mereka < 0,5 %, lebih rendah dari risiko terkena virus hepatitis B (25%) sesudah terpajan dengan cara yang sama. Penggunaan alat suntik yang tidak aman menyebabkan terjadinya penularan sekitar 5%.
6. Masa inkubasi
Bervariasi. Walaupun waktu dari penularan hingga berkembang atau terdeteksinya antibodi, biasanya 1 - 3 bulan, namun waktu dari tertular HIV hingga teriiagnosa sebagai AIDS sekitar < 1 tahun hingga 15 tahun atau lebih. Tanpa pengobatan anti-HlV yang efektif, sekitar 50 % dari orang dewasa yang terinfeksi akan terkena AIDS dalam 10 tahun sesudah terinfeksi. Mediian masa inkubasi pada anak-anak yang terinfeksi lebih pendek dari orang dewasa.
Bertambahnya ketersediaan terapi anti HlVsejak pertengahan tahun 1990-an mengurangi perkembangan AIDS di AS dan di banyak negara maju secara bermakna. Beberapa fakta di lapangan menunjukan bahwa perkembangan dari infeksiHlV menjadi AlDS lebih cepat ierjadi di negara berkembang dibandingkan negara maju. Namun cepatnya'perkembangan dari infeksi HIV menjadi AIDS tergantung pada usia saat terkena infeksi HIV dewasa muda dan orang dewasa yang mendapat infeksi HIV pada usia lebih muda lebih lambat menjadi AIDS jika infeksi terjadi pada usia lebih tua. Perkembangan penyakit juga tergantung pada sub tipe virus.
7. Masa penularan
Tidak diketahui, diperkirakan mulai berlangsung segera sesudah infeksi HIV dan berlangsung seumur hidup. Bukti-bukti epidemiologis menyatakan bahwa infektivitas meningkat dengan bertambahnya viral load, adanya defisiensi imunologis, gelala-gejala klinis yang memburuk dan adanya penyakit menular seksual (PMS) lainnya. Studi epidemiologis menyatakan bahwa infektivitas menjadi tinggi selama bulan-bulan awal sesudah infeksi. Ditemukannya virus bebas atau virus dalam sel didalam sekret, PMS dengan ulkus atau inflamasi merupakan faktor risiko.
8. Kerentanan dan kekebalan
Tidak diketahui, tetapi semua orang diduga rentan : ras, jenis kelamin dan kehamilan tidak mempengaruhi suseptibilitas terhatap infeksi HIV atau AIDS. Adanya sTD lain, terutama kalau ada ulcus, menambah suseptibilitas, begitu juga pada pria yang tidak dikhitan dan tidak higienis. Faktor terakhir ini terkait bengan masalah kebersihan penis. Mengapa penduduk Afrika yang terkena infefeksi HIV lebih cepat berkembangnya menjadi AIDS dibandingkan dengan populasi lain, masih terus dalam penelitian. satu - satunya faktor yang dapat diterima, yang mempengaruhi perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS adalah usia pada saat infeksi.
Dewasa muda dan pria serta wanita dewasa yang terinfeksi HIV pada usia muda, biasanya lambat menderita AIDS, dibandingkan jika terinfeksi pada usia lebih tua. Adanya potensi interaksi antara infeksi HIV dengan infeksi penyakit lainnya menjadi masalah kesehatan masyarakat yang memprihatinkan. Lnterkasi utama yang sampai saat ini diketahui adalah interaksi HIV dengan Mycobacterium m Tuberculosis (Mtbc) Mereka yang didalam tubuhnya mengidap infeksi MTbc laten, jika terinfeksi HlV akan berkembang menjadi penderita TB klinis dengan cepat.
Dikatakan risiko seorang dewasa terkena TB adalah 10%, namun jika mereka terinfeksi HlV maka risikonya menjadi 60 - 80% terkena TB atau 6-g kali. Interaksi antara HIV dengan Mtbc mengakibatkan terjadinya pandemi TB paralel dengan HlV/AlDS. Di negara-negara sub Sahara didaerah perkotaan 10-1 5 % orang dewasa mengalami infeksi HIV dan Mtbc secara bersamaan ("Dual lnfection"), didaerah ini angka prevalensi TB meningkat 5-10 kali lipat pada pertengahan tahun 1990 an.
Tidak ada bukti konkiusif yang menunjukkan bahwa infeksi lain termasuk TB mempercepat perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS. lnteraksi infeksi HIV dengan penyakit lain yang menimbulkan gejala klinis yang berat antara lain infeksi pneumococcus, salmonellosis nonlyphi, malaria fatciparum dan visceral leishmaniasis (kala-azhar). Belakangan ini banyak bukti menunjukkan bahwa adanya chemokine-receptor polymorphisms pada seseorang, menurunkan tingkat kerentanan.
9. Cara-cara Pencegahan
A. Upaya Pencegahan
Program pencegahan HIV/AIDS hanya dapat efektif bila dilakukan dengan komitmen masyarakat dan komitmen politik yang tinggi untuk mencegah dan atau mengurangi perilaku risiko tinggi terhadap penularan HlV. Upaya pencegahan meliputi :
1)Pemberian penyuruhan kesehatan di sekorah dan di masyarakat . harus rnenekankan bahwa mempunyai pasangan seks yang berganti-ganti serta penggunaan alat suntik bergantian dapat meningkatkan risiko terkena infeksi HlV. pelajar dan pemuda juga harus dibekali pengetahuan bagaimana untuk menghindari atau mengurangi kebiasaan yang mendatangkan risiko terkena infeksi HlV.
Program untuk anak sekorah harus dikembangkan sedemikian rupa sesuai dengan perkembangan mental serta kebutuhan mereka, begltu juga bagi mereka yang tidak sekolah. Kebutuhan kelompok minoritas, orang-orang dengan bahasa dan budaya yang berbeda, bagi penderita tuna netra serta tuna rungu juga harui dipikirkan.
2) satu-satunya jalan agar tidak terinfeksi adarah dengan tidak melakukan hubungan seks atau hanya berhubungan seks dengan satu orang yang diketahui tidak mengidap infeksi. pada situasi lain kondom lateks harus digunakan dengan benar setiap kali seseorang melakukan hubungan seks secara vaginal, anal atau oral. Kondom lateks dengan pelumas berbahan dasar air dapat menurunkan risiko penularan melalui hubungan seks.
3) Memperbanyak fasilitas pengobatan bagi pecandu obat terlarang akan mengurangi penularan HlV. Begitu pula program “Harm reduction"yang menganjurkan para pengguna jarum suntik untuk menggunakan metode dekontaminasi dan menghentikan penggunaan jarum bersama telah terbukti efektif menurunkan penularan HlV.
4) Menyediakan fasilitas Konseling dan testing HIV dimana identitas penderita dirahasiakan atau dilakukan secara anonimus serta menyediakan tempat-tempat untuk melakukan pemeriksaan darah. Fasilitas tersebut saat ini telah tersedia di seluruh negara bagian di AS. Konseling, tes HIV secara sukarela dan rujukan medis dianjurkan dilakukan secara rutin pada klinik keluarga berencana dan klinik bersalin, klinik bagi kaum homo dan terhadap komunitas risiko tinggi dimana seroprevalens HIV tinggi.
Orang yang aktivitas seksualnya tinggi disarankan untuk mencari pengobatan yang tepat bila menderita Penyakit Menular Seksual (PMS). Konseling terhadap pasangan menikah dan yang akan menikah, serta terhadap mereka yang merasa khawatir ("worried well').
5) setiap wanita hamil sebaiknya sejak awal kehamilan disarankan untuk dilakukan tes HIV sebagai kegiatan rutin dari standar perawatan kehamilan. lbu dengan HIV positif harus dievaluasi untuk memperkirakan kebutuhan mereka terhadap terapi ARV seperti zidovudine (ZDV) untuk mencegah penularan HIV melalui uterus dan perinatal. Ada bukti-bukti menunjukkan bahwa pada pemberian ASI eksklusif risiko penularan HIV meolalui ASI lebih kecil jika dibandingkan dengan pada pemberian ASI partial.
6)Berbagai peraturan dan kebijakan telah dibuat oleh USFDA, untuk mencegah kontaminasi HIV pada plasma dan darah. Semua darah donor harus diuji antibodi HIV-nya. Hanya darah dengan hasil tes negatif yang digunakan.
Orang yang mempunyai kebiasaan risiko tinggi terkena HIV sebaiknya tidak mendonorkan plasma, darah, organ-organ untuk transplantasi, sel atau jaringan (termasuk cairan semen untuk inseminasi buatan). lnstitusi (termasuk bank sperma, bank susu atau bank tulang) yang mengumpulkan plasma, darah atau organ harus menginformasikan tentang peraturan dan kebijakan ini kepada donor potensial dan tes HIV harus dilakukan terhadap semua donor. Apabila mungkin, donasi sperma, susu atau tulang harus dibekukan dan disimpan selama 3 _ 6 bulan. Donor yang tetap negatif setelah masa itu dapat di asumsikan tidak terinfeksi pada waktu menjadi donor.
7) Jika hendak melakukan transfusi, dokter harus melihat kondisi Pasien dengan teliti apakah ada indikasi medis unluk transfusi. Transfusi otologus sangat dianjurkan.
8) Hanya produk iaktor pembekuan darah yang sudah di seleksi. Dan Yang tetah diperlakukan dengan semestinya untuk menonaktifkanHIV yang bisa digunakan.
9) Sikap hati-hati harus dilakukan pada waktu penanganan pemakaian dan pembuangan jarum suntik atau semua jenis alat alat yang berujung tajam lainnya agar tidak tertusuk.
Petugas kesehatan harus menggunakan Sarungtangan lateks, pelindung Mata dan alat pelindung lainnya untuk menghindari kontak dengan darah atau cairan yang mengandung darah. Setiap tetes darah pasien yang mengenai tubuh petugas kesehatan harus dicuci dengan air sabun sesegera mungkin. Kehati-hatian ini harus di lakuk an pada semua pasien dan semua prosedur laboratorium (tindakan kewaspadaan universal).
10) WHO merekomendasikan pemberian imunisasi bagi anak-anak dengan infeksi HIV tanpa gejala dengan vaksin-vaksin EPI {EXPANDED PROGRAMME ON IMMUNIZATION); anak-anak yang menunjukkan gejala sebaiknya tidak mendapat vaksin BCG. Di AS BCG dan vaksin oral polio tidak direkomendasikan untuk diberikan kepada anak-anak yang terinfeksi HlV tidak perduli terhadap ada tidaknya gejala, sedangkan vaksin MMR (measles-mumps-rubella) dapat diberikan kepada anak dengan infeksi HIV.
B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitarnya
1) laporan kepada instansi kesehatan setempat; mengirimkan laporan resmi kasus AlDS adalah wajib disemua jajaran kesehatan di AS dan hampir di semua negara di dunia. Sebagian besar negara bagian di AS menerapkan sistem pelaporan infeksi HIV.Laporan resmi mungkin dibutuhkan di berbagai negara atau provinsi.
2) lsolasi; mengisolasi orang dengan HIV positif secara terpisah tidak perlu, tidak efektif dan tidak dibenarkan. "Universal Precaution''(kewaspadaanuniversal)(q v)diterapkan untuk semua penderita yang dirawat. Tindakan kewaspadaan tam bahan tertentu perludilakukanpadainfeksispesifikyangterjadipadapenderita AIDS.
3). Disinfeksi serentak; dilakukan terhadap alat alat yang terkontaminasi dengan darah atau cairan tubuh dengan menggunakan larutan pemutih (chlorine) atau germisida tuberkulosidal yang efektif terhadap M. tuberculosls.
4). Karantina; tidak diperlukan. Penderita HIV/AIDS dan pasangan seks mereka sebaiknya tidak mendonasikan darah, plasma, organ untuk transplantasi, jaringan, sel, semen untuk inseminasi buatan atau susu untuk bank susu manusia.
5). lmunisasi dari orang orang yang kontak; tidak ada.
6). lnvestigasi terhadap kontak dan sumber infeksi; Di AS pasangan seks dari para penderita HIV/AIDS atau pasangan pengguna jarum suntik bersama, bila memungkinkan, di laporkan sendiri oleh si penderita. Rujukan oleh petugas di benarkan bila pasien, sesudah dilakukan konseling, tetap menolak untuk memberitahukan pasangan seks mereka, dan untuk itu petugas harus betul-betul yakin bahwa tidak akan terjadi sesuatu yang membahayakan kasus indeks bila pasangannya diberitahu. Tindakan yang sangat hati-hati harus dilakukan untuk melindungi kerahasiaan penderita.
7). Pengobatan spesifik: di sarankan untuk melakukan diagnosa dini dan melakukan rujukan untuk evaluasi medis. Rujuklah sumber informasi mutakhir tentang obat yang tepat, jadwal dan dosisnya.
Pedoman pengobatan HIV/AIDS yang selalu diperbaharui setiap saat tersedia pada "CDC National Clearing house" (1-800458-5231) dan dapat diakses melalui Clearing house World Wide Website (http:www.cdcnpin.org), website WHO dan UNAIDS.
a) Sebelum ditemukan pengobatan antiretrovirus yang relatif efektif, dan tersedia secara rutin di AS sekitar tahun 1990-an, pengobatan yang ada pada waktu itu hanya ditujukan kepada penyakit oppoftunistic yang diakibatkan oleh infeksi HlV. Penggunaan TMP-SMX oral untuk tujuan profilaktik, dengan pentamidin aerosol sebagai back up yang agak kurang efektif, direkomendasikan untuk mencegah pneumonia p. carinii. Semua orang yang terinfeksi HIV terhadap mereka harus dilakukan tes tuberkulin dan dievaluasi apakah mereka penderita TBC aktif. Jika diketahui menderita TB aktif, pasien harus diberi terapi anti tuberkulosa. Jika bukan TB aktif, pasien dengan tes tuberkulin positif atau yang anergik tetapi baru saja terpajan dengan TB harus diberikan terapi dengan isoniazid untuk 12 bulan (dewasa ini bervariasi secara individual).
b) AIDS harus ditangani sebagai penyakit kronis; dan harus diingat. bahwa pengobatan dengan ARV adalah sangat kompleks, merupakan terapi kombinasi; penggunaan teripi ARV single mempercepat terjadinya resistensi. ARV merupakan obat yang toksik dan harus diminum seumur hidup, disiplin minum obat merupakan kunci sukses pengobatan. Pengobatan dengan ARV tidak untuk menyembuhkan namun untuk menekan replikasi virus. Keputusan untuk memulai atau merubah terapi antiretrovirus harus di pandu dengan memonitor hasil pemeriksaan parameter laboratorium baik Plasma HIV RNA (viral load) maupun jumlah sel CD4+T dan dengan melihat kondisi klinis dari pasien. Hasil dari dua parameter ini memberikan informasi penting tentang status virologi dan imunologi dari pasien dan risiko dari perkembangan penyakit menjadi AIDS. Sekali keputusan untuk memberi terapi antiretrovirus diambil, pengobatan harus di lakukan dengan agresif dengan tujuan menekan virus semaksimal mungkin. Pada umumnya, harus diawali dengan penggunaan inhibitor protease dan dua inhibitor "non nucleoside reverse transcriptase". Regimen lain mungkin digunakan tetapi dianggap kurang optimal. Pertimbangan spesifik di berikan kepada orang dewasa dan wanita hamil, dan bagi pasien pasien ini sebaiknya digunakan regimen pengobatan spesifik.
c) Hingga pertengahan tahun 1999, satu-satunya obat yang dapat mengurangi risiko penularan HlV.perinatal hanya AZI dan di berikan sesuai dengan regimen berikut: diberikan secara oral sebelum kelahiran, mulai 14 minggu usia kehamilan dan diteruskan sepanjang kehamilan, diberikan intravena selama periode intra-partum; diberikan oral bagi bayi baru lahir hingga berusia 6 minggu. Regimen "chemoprophylactic" ini menurunkan risiko penularan HIV hingga 66 "k. Terapi AZT yang lebih singkat mengurangi risiko penularan hingga 40%.
Dari studi di Uganda, dilaporkan bahwa pada bulan Juli 1999 dosis tunggal nevirapine yang diberikan kepada ibu yang terinfeksi HIV diikuti dengan dosis tunggal kepada bayi hingga berusia 3 hari, memberi hasil yang lebih baik dibandingkan dengan kedua terapi diatas. Hanya 13,1% dari bayi yang mendapat terapi nevirapine yang lerinfeksi HlV, dibandingkan dengan 25,1 % dari kelompok yang mendapat terapi AZT. Harga Neviraprne kurang dari 4 dolar satu dosisnya, sehingga prospek untuk melindungi penularan ibu ke anak di negara berkembang lebih memungkinkan di era milenium ini.
Namun, kurang tersedianya fasilitas tes HIV dan jasa konsultasi bagi wanita hamil di negara-negara berkembang yang termiskin di Af rika tetap merupakan sebuah tantanEan yang berat. Disamping itu kurang tersedianya pengobatan anti HIV bagi orang dewasa membuat angka anak-anak yang menjadi yatim piatu bertambah di negara-negara ini.
d) Kewaspadaan untuk mengurangi risiko tertulari harus ditekankan dan diterapkan di seluruh fasilitas kesehatan. Manajemen terhadap tenaga kesehatan yang sehari-harinya terpajan darah dan cairan tubuh yang mungkin mengandung virus HIV sangat kompleks. Sifat pajanan dan faktor-faktor seperti kemungkinan hamil dan strain HIV yang resisten terhadap obat harus dipertimbangkan sebelum Profilaksis HIV pasca pemajanan (Postexposure prophylaxis = PEP) di berikan. Akhir tahun 1999, pemberian PEP yang dianjurkan termasuk pemberian regimen dasar selama 4 minggu yang terdiri dari 2 jenis obat (zidovudine danramivudine ) untuk semua jenis pemajanan HlV, termasuk juga regimen yang telah dikembangkan, dengan tambahan protease inhibitor (indinavir atau nelfinavir) yang ditujukan bagi orang yang terpajan kuman HIV yang keberadaannya membuat meieka ilempunyai risiko tinggi terturar atau untuk mereka yang diketahui atau dicurigai resisten terhadap satu atau rebih obat antiretrovirar yang direkomendasikan untuk PEP. lnstitusi pelayanan kesehatan seharusnya mempunyai pedoman yang mempermudah dan memberikan akses yang tepat untuk perawatan pasca pemajanan bagi petugas kesehatan dan pengembangan sistem pencatatan dan pelaporan peristiwa pemajanan.
C) Penanggulangan wabah
HIV saat ini sudah pandemik, dengan jumlah penderita yang sangat besar di raporkan di Amerika, Eropa,-Afrika dan Asia Tenggara. Lihat cara-cara pencegahan 9A di atas untuk rekomendasi.
D) lmplikasi bencana
Petugas emergensi harus mengikuti prosedur kewaspadaan universar, jika sarung tangan rateks tidai tersedia dan permukaan kulit kontak dengan darah, harus dicuci sesegera mungkin. Masker, kacamata pelindung dan pakaian pelindung di slrankan untuk dipakai ketika melakukan tindakan yang bisa menyeoabkan semburan atau percikan darah atau cairan lubuh. Transfusi untuk keadaan darurat sebaiknya menggunakan darah donor yang telah diskrining terhadap antibodi HlV, jika uji saring tidak mungkin dilakukan mJka donasi sebaiknya di terima hanya dari donor yang tidak mempunyai peritaku yang memungkinkan terinfeksi oleh HlV, dan lebih disukai iono, yang sebelumnya terbukti negatif untuk antibodi HlV.
E) Tindakan lnternasional
Program pencegahan dan pengobatan global dikoordinasi oleh WHO yang dimurai pada tahun 1987. Sejak tahun 1995, program AIDS global dikoordinaslkan oleh UNAIDS. Sebenarnya semua negara di seluruh dunia telah mengembangkan program perawatan dan pencegahan AIDS. Beberapa negara telah melembagakan keharusan pemeriksaan AIDS atau HIV untui masuknya pendatang asing (terutama bagi mereka yang meminta visa tinggal atau visa yang lebih panjang, seperti visa belajar atau visa kerja) WHO dan UNAIDS belum mendukung tindakan ini.
PEMBAHASAN DIABETES MELITUS
(ENDOGEN)
1) Diabetes melitus (DM)
Kencing manis Pada tahun 1552 sebelum masehi, di Mesir dikenal penyakit yang ditandai dengan sering kencing dan dalam jumlah yang banyak ( yang disebut : Poliurial ), dan penurunan berat badan yang cepat tanpa disertai rasa nyeri. Kemudian pada tahun 400 sebelum masehi, penulis India sushratha menamakan penyakit tersebut : penyakit kencing manis.
Akhirnya, Aretaeus pada tahun 200 sebelum masehi adalah orang yang pertama kali memberi nama : Diabetes, berarti “mengalir terus”, dan Mellitus berarti “manis”. Disebut Diabetes, karena selalu minum dan dalam jumlah banyak ( Polidipsia ), yang kemudian “mengalir” terus berupa air seni ( urine ); disebut Mellitus karena air seni penderita ini mengandung gula ( manis ).
Pada dasarnya, Diabetes Mellitus (DM) atau penyakit kencing manis disebabkan hormon INSULIN penderita tidak mencukupi, atau tidak dapat bekerja normal, sedangkan hormon insulin tersebut mempunyai peranan utama untuk mengatur kadar glukosa ( = gula ) didalam darah sekitar 60 – 120 mg/dl waktu puasa dan di bawah 200 mg/dl pada dua jam sesudah makan.
Sejak ditemukan hormon insulin pada tahun 1921 oleh Banting dan Best di Kanada, maka angka kematian dan keguguran ibu-ibu diabetes yang hamil makin berkurang. Akhirnya pada tahun 1954 Franke dan Fuchs mencoba tablet OAD ( Obat Anti Diabetes ) pada manusia, yang akhirnya temuan OAD ini berkembang pesat dengan berbagai jenis dan indikasi penggunaanya.Maksud informasi ini bukanlah untuk membuat takut bagi pembaca terhadap komplikasi yang mungkin terjadi pada penderita Diabetes Mellitus, melainkan bertujuan agar pembaca :
1. Mengenal apakah Diabete Mellitus itu.
2. Mengetahui bahwa Diabetes Millitus adalah penyakit yang tidak berbahaya asal tidak diremehkan.
3. Terlatih untuk melakukan usaha pencegahan terhadap Diabets Mellitus.
4. Mengetahui bahwa diit memegang peranan utama dalam pengobatan Diabetes Mellitus.
5. Dapat melaksanakan diit diabetes yang benar, agar yang terkena Diabetes Mellitus dapat sehat kembali.
APAKAH PENYAKIT DIABETES MELLITUS ITU?
Seperti telah disebut diatas bahwa hormon insulin yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas (kelenjar pankreas terletak di lekukan usus dua belas jari ) sangat penting untuk menjaga keseimbangan kadar gula ( glukosa ) darah antara 60 – 120 mg/dl waktu puasa dan kadar gula dalam dua jam sesudah makan di bawah 200 mg/dl. Apabila terdapat gangguan kerja insulin, baik kualitas maupun kualitas, maka keseimbangan tersebut akan terganggu dan kadar gula darah cenderung naik.
Seseorang sudah dapat disebut Diabetes Mellitus apabila menderita 2 dari 3 yang tersebut di bawah ini:
1. Keluhan haus, banyak minum, banyak kencing, penurunan berat badan.
2. Kadar gula darah lebih dari 120 mg/dl, pada waktu puasa.
3. Kadar gula darah lebih dari 200 mg/dl, 2 jam sesudah makan.
Karena kadar gula darah meningkat, maka kelebihan gula ( glukosa ) tersebut akan dikeluarkan melalui air seni dan terjadilah glukosuria ( yaitu adanya glukosa – gula di dalam air seni ); pada orang normal tidak terdapat glukosa di dalam air seninya.
Adanya gula di dalam air seni ini dapat diketahui dengan beberapa cara, antara lain :
1. Air seni penderita tersebut segera didatangi semut karena mengandung gula
2. Adanya rasa manis di air seni ( Dr. Thomas Willis dari Inggris pernah mencoba menjilatinya )
3. Timbul rasa gatal di kemaluan pada bekas kencing
Dan yang paling tepat adalah pemeriksaan terhadap adanya glukosa atau gula di dalam air seni, dengan cara :
A. Reaksi Fehling ( reaksi rebus )
B. Kertas strip yang disebut BM test
C. Kertas strip lain : Glukotest
D. Kertas strip yang disebut Diastix
E. Reaksi dengan tablet, yaitu dengan Clinitest.Salah satu atau beberapa cara ( a, b, c, d ) tersebut biasanya telah diketahui oleh penderita Diabetes Mellitus.
Penyakit Diabetes Melitus atau yang umum sebut penyakit “Kencing Manis”, atau “Penyakit Gula Darah” sekarang ini sudah menjadi penyakit “sejuta umat”….
Mengapa demikian? Hal ini banyak disebabkan oleh Life Style Modern/Pola Hidup Modern yang terbiasa dengan mengkonsumsi Fast Food, Goreng gorengan, Rasa Gurih/berlemak, kurang buah dan sayuran…
Disamping itu masyarakat umumnya menganggap bahwa penyakit Kencing Manis hanya diakibatkan terlalu banyak makan minum yang manis manis, sehingga cara mencegah dan mengobatinya cukup dengan diet makanan dan minuman yang manis manis atau mengandung banyak karbohidrat (nasi dan sejenisnya)…sehingga dianggap tidaberbahaya…
Sebenarnya kalangan kedokteran menamakan penyakit Diabetes Melitus sebagai “Mother Of Deases”…”Ibu Dari Berbagai Penyakit…”
Mengapa dinamakan demikian?…Karena bila seseorang sudah mengidap penyakit kencing manis, berarti darahnya tercemar oleh gula yang menyebar keseluruh organ tubuh penting lainnya dan merusak organ tersebut.
Organ apa saja yang bisa dirusak?…
Pertama adalah Otak…orang akan menjadi menderita pikun/pelupa …
Kedua adalah mata…orang akan menderita rabun mata sampai buta…
Ketiga ginjal, orang akan menderita gagal ginjal dan harus cuci darah…
Keempat alat kelamin, untuk pria akan menderita impoten….
Dan banyak yang lain lagi…
Benarkah pengobatannya cukup dengan diet minum dan makan yang manis manis atau yang bisa berubah menjadi glukosa dalam darah?…..Sepengetahuan saya jawabnya adalah tidak benar!!!
Diet tersebut hanya akan menjaga penyakit tidak semakin parah dan menunda kerusakan organ yang rusak….
Sebenarnya apa yang harus dilakukan?…
Yang harus dilakukan adalah ia harus mengobati organ Pankreasnya yang berfungs menghasilkan Insulin yang akan memproses metabolisme gula yang ada dalam darah menjadi enerji ( Glukosa diproses menjadi glukogen yang diperlukan untuk energi dalam aktivitas otot dll)…
Apa obat Pangkreas?…banyak, tapi pilihlah yang bukan kimiawi, cari yang organik…agar tidak menghasilkan limbah racun yang akan merusak Lever dan Ginjal…
Herbal yang sering digunakan mengobati penyakit kencing manis seperti daun salam; ramuan rebusan daun jambu, kunyit putih dan rambut jagung dll sebenarnya hanya memiliki efek mengurangi kadar gula dalam darah, tidak memperbaiki Pankreasnya !!!
Untuk memperbaiki Pankreas, harus dilakukan upaya serius, yaitu disamping diet yang ketat terhadap makanan dan minuman yang mengandung gula dan karbohidrat, juga harus olah raga rutin dibawah sinar matahari pagi antar jam 6-8 , serta mengkonsumsupelmen yang mengandung omega 3(minyak ikan laut dalam, sunclorela, crypto, ikan salmon dll)…
Olahraga rutin setiap hari dibawah matahari pagi akan menyerap Sinar Far Infra Red (Biofir) yang sangat bermanfaat membantu proses metaolisme tubuh secara sangat efektif)…akan membantu oroses perbaikan dan pembuatan sel baru organ tubuh yang rusak….
Demikian juga 0mega 3 akan membantu proses metabolisme pembentukan sel baru organ tubuh yang rusak dan melindungi inti sel organ tubuh kita…
Diet ketat akan membantu menurunkan kadar gula dalam darah agar metabolisme tubuh menjadi lebih lancar daqn mengurangi pencemaran gula pada organ tubuh yang rusak….
Jadi yang harus dilakukan adalah:
Lakukan positif thinking; Olah raga rutin/intensif dibawah sinar matahari pagi antara jam 6-8 pagi; Diet ketat mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula/karbohidrat; Makan dan minum supelmen mengandung Omega 3 tinggi; Secara berangsur mengurangi obat kimiawi dan menggantinya dengan supelmen herbal dalam dosis yang tepat…
Dari semua hal yang disebut diatas, menurut pengalaman saya, pengaruh olah raga rutin dibawah sinar matahari pagi adalah yang sangat mudah, murah dan efektif, tidak mengandung resiko apapun, tapi justru memperkuat jantung dan paru paru…
2). Prevalensi Penderita Diabetes
Salah satu penyakit yang erat berkaitan dengan pola hidup tidak sehat adalah diabetes. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), lebih dari 220 juta orang di seantero dunia mengidap diabetes. bahkan 90 persen penderita diabetes tipe dua (diabetisi) di dunia banyak terkait problem berat badan berlebih dan kurang aktivitas fisik.
Masih dari data WHO, hampir 50 persen kasus kematian karena diabetes terjadi di bawah umur 70 tahun; 55 persen di antaranya terjadi pada wanita. Bahkan, WHO memprediksi angka kasus kematian karena diabetes akan bertambah dua kali pada rentang tahun 2005 hingga 2030.
Sementara itu, prevalensi penderita diabetes di Indonesia menunjukkan tren meningkat. Diperkirakan 11,98 juta orang menjadi penderita diabetes. Tambahan lagi, Persadia memperkirakan sekitar 50 persen diabetisi belum terdiagnosis. Hal ini perlu menjadi perhatian dan kesadaran bersama.
3).Penyebab Diabetes
Faktor risiko diabetes banyak terjadi pada keluarga yang memiliki riwayat menderita diabetes. Di sisi lain berat badan berlebih (indeks massa tubuh lebih dari 23 kg/m2), kurang aktivitas fisik, hipertensi, atau diet tinggi gula rendah serat. Untuk pola konsumsi yang kurang sehat, yakni dengan karbohidrat berlebih, juga bisa menjadi penyebab. Pasalnya, orang Indonesia lazim mengonsumsi makanan berkarbohidrat.
Kita akan merasa aman untuk mengonsumsi nasi dengan kentang atau mi sebagai lauknya supaya cepat kenyang. Padahal sesungguhnya kedua makanan itu sama-sama mengandung karbohidrat sehingga asupan karbohidrat menjadi berlebihan. Selain itu, kebiasaan sebagian masyarakat Indonesia yang banyak mengonsumsi gula turut memperburuk keadaan. Pagi hari minum segelas teh manis, agak siang dan sore minum segelas kopi manis. Selanjutnya, sesudah makan siang, makan puding manis, dan saat bertamu disuguhi segelas sirup manis. Kalau semua itu dikonsumsi dalam sehari, begitu banyak konsumsi gula yang bisa membahayakan kesehatan.
4). Pola Makan Sehat
Perubahan gaya hidup ke arah yang lebih sehat dapat dilakukan melalui peningkatan aktivitas fisik dengan berolahraga dan juga diet dengan mengurangi asupan karbohidrat serta menjaga berat badan ideal. Oleh karena itu, tentunya kita perlu pandai-pandai memilih jenis karbohidrat juga untuk jumlahnya. Hindari konsumsi karbohidrat sederhana secara berlebihan. Misalnya gula pasir, madu, sirup, selai, soft drink, dan jajanan manis. Untuk asupan gula pasir, sebaiknya tidak lebih dari lima persen total kalori harian.
Sebaliknya, perbanyak konsumsi karbohidrat kompleks seperti padi-padian, umbi-umbian, sagu, serat, serta gula ada secara alami dari buah, sayuran, dan susu. Prinsip yang dianjurkan yaitu para diabetisi mengasup zat makanan karbohidrat, lemak, dan protein sebanyak masing-masing 45-65 persen, 20-25 persen, dan 10-20 persen dari total kalori dalam makanan sehari.
Untuk mengukur banyaknya asupan karbohidrat, Anda dapat memakai The Idaho Plate Method atau Zimbabwe Handjiwe yang diakui para pakar kesehatan. Cara ideal lainnya adalah menggunakan produk makanan yang mencantumkan dengan jelas jumlah dan jenis nutrisi yang terkandung di dalamnya.
Jadi langkah apa yang harus dilakukan sebagai upaya pencegahan supaya kita tidak terserang penyakit Diabetes melitus ? Kita musti ingat pedoman hidup sehat yaitu " LEBIH MENCEGAH DARIPADA MENGOBATI " . Berikut dibawah ini ada beberapa petunjuk untuk menjalani hidup sehat, yaitu :
1. Rutin melakukan olah raga pagi misalnya jogging, senam Tai Chi, senam Qi Gong , bersepeda santai, atau berenang.
2. Hindari makanan yang mengandung lemak / kolesterol yang banyak dijumpai pada makanan fast food, dan durian, mlinjo dan lain sebagainya
3. Sebaiknya menggunakan gula rendah kalori, seperti gula dari jagung
4. Hindari makanan atau minuman yang terbuat dari bahan - bahan artifisial dan banyak mengandung gula / karbohidrat seperti soft drink, dan ayam horen yang banyak disuntik hormon kimia supaya cepat gemuk.
5. Upayakan untuk makan pada sore hari paling lama jam 5 sore, supaya glukosa yang ada di dalam darah bisa terurai karena kita masih melakukan aktifitas .
6. Jangan lupa banyak minum air putih , sehari maksimal 2,5 liter
7. Upayakan untuk mengkonsumsi makanan berserat tinggi, seperti jeruk keprok, biji - bijian, dan sayuran.
8. Upayakan selalu berpikir positif , relax / tidak spaneng dalam menyikapi suatu persoalan yang sedang kita hadapi
9. Selalu bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa , atas semua rejeki dan kesehatan yang diberikan oleh-NYA. Dan musti tetap tawakal dan bersyukur juga meskipun kita sedang menghadapi suatu permasalahan yang pelik sekalipun, dan lain sebagainya.
Semua yang telah diuraikan di atas akan berjalan sebagaimana mestinya jika kita memang benar - benar ingin menjaga kesehatan tubuh kita supaya tetap sehat selalu yaitu dengan niat yang sepenuh hati untuk menjalani pola hidup sehat. Jika kita bijaksana dalam menjaga kesehatan diri kita sendiri, seyogyanya kita selalu merealisasikan pedoman hidup supaya kita bisa menjaga kesehatan kita yaitu LEBIH BAIK MENCEGAH DARIPAD MENGOBATI PENYAKIT APAPUN JENISNYA ! !
PEMBAHASAN INFEKSI PENYAKIT HIV, AIDS
(EXOGEN)
1.ldentifikasi Acquired lmmunodeficiency Syndrome
AIDS adalah terminologi sindroma penyakit yang pertama kali digunakan oleh para ahli epidemiologi terhadap sekelompok orang dewasa yang kehilangan imunitas seluler tanpa sebab yang jelas pada tahun 1981. Sindroma ini menggambarkan tahap klinis akhir dari infeksi HlV. Beberapa minggu hingga beberapa bulan sesudah terinfeksi, sebagian orang akan mengalami penyakit self-limited mononucleosis-like akut yang akan berlangsung selama I atau 2 minggu. Orang yang terinfeksi mungkin tidak menunjukkan tanda atau simplom selama beberapa bulan atau tahun sebelum manifestasi klinis lain muncul. Berat ringannya infeksi "opportunistic" atau munculnya kanker setelah terinfeksi HlV, secara umum terkait langsung dengan derajat kerusakan sistem kekebalan yang diakibatkannya. Definisi AIDS yang dikembangkan oleh CDC Atlanta tahun 1982 memasukkan lebih dari selusin infeksi 'bpportunistics" dan beberapa jenis kanker sebagai indikator spesifik akibat dari menurunnya kekebalan tubuh.
Apabila penegakan diagnosa didukung dengan pemeriksaan histologis/kultur standar, maka penyakit-penyakit ini dapat diterima sebagai definisi kasus AIDS asalkan penyebab defisiensi kekebalan lain tidak ditemukan. Di tahun 1987, definisi ini diperbaharui dan diperluas dengan memasukkan penyakit-penyakit indikator tambahan dan menerima beberapa penyakit indikator tersebut sebagai satu diagnosa presumtif bila tes laboratorium menunjukkan bukti adanya infeksi HlV. Di tahun 1993, CDC merubah kembali definisi surveilans dari AIDS dengan memasukkan penyakit indikator tambahan. Sebagai tambahan, semua orang yang terinfeksi HIV dengan CD4 + (hitung sel) < 2o}lcu mm atau pasien dengan CD4 + dan prosentase T-lymphocyte dari total lymphocyte < 14%, tanpa memperhatikan status klinis dianggap sebagai kasus AIDS.
Disamping kriteria rendahnya jumlah CD4, definisi CDC tahun 1993 secara umum sudah diterima untuk tujuan klinis di banyak negara maju, tetapi tetap terlalu kompleks bagi negaranegara berkembang. Negara-negara berkembang terkadang kekurangan fasilitas laboratorium yang memadai untuk pemeriksaan histologis atau diagnosis kultur bagi penyakit-penyakit indikator spesifik.
WHO merubah definisi kasus AIDS yang dirumuskan di Bangui, Afrika Tengah untuk digunakan dinegara berkembang pada tahun 1994: yaitu dengan menggabungkan tes serologi HIV, jika tersedia, dan termasuk beberapa penyakit indikator (seperti tuberkulosis, infeksi pneumococcus, salmonellosis non tifoid) sebagai pelengkap diagnostik bagi mereka yang seropositip. Pneumonia bakteriil adalah yang paling sering ditemukan. Manifestasi klinis dari HIV pada bayi dan balita tumpangtindih dengan imunodefisiensi turunan dan masalah kesehatan anak lainnya. CDC dan WHO telah mempublikasikan definisi kasus AIDS pada anak.
Proporsi orang yang terinfeksi HlV, tetapi tidak mendapat pengobatan anti- HIV dan akhirnya akan berkembang menjadi AIDS diperkirakan mencapai lebih dari 90 %. Karena tidak adanya pengobatan anti-HlV yang efektif, "case fatality rate" dari AIDS menjadi sangat tinggi, kebanyakan penderita di negara berkembang (80 - 90%) mati dalam 3 - 5 tahun sesudah didiagnosa terkena AIDS. Bagaimanapun, penggunaan obat-obatan profilaktik secara rutin untuk mencegah Pneumonia Pneumocystis cainii dan kemungkinan infeksi-infeksi lain di AS dan sebagain besar negara maju terbukti dapat menunda perkembangan AIDS dan mencegah kematian secara bermakna, mendahului tersedianya secara rutin obat anti-HlV yang efektif secara luas.
Tes serologis antibodi untuk HIV lersedia secara komersial sejak tahun 1985. Tes yang biasa digunakan, (ELISA/EIA) sangat sensitif dan spesifik. Namum walaupun tes ini hasilnya efektif, diperlukan tes tambahan lagi seperti Western Blot atau tes "indirect fluorescent antibody" (lFA). Tes tambahan dengan hasil negatif meniadakan tes EIA positif pertama; sedangkan jika hasilnya positif mendukung tes EIA positif pertama, dan hasil tes Western Blot yang meragukan membutuhkan evaluasi lanjutan.
WHO merekomendasikan sebagai alternatif penggunaan rutin Western Blot dan lFA, yaitu penggunaan tes lain yang secara metodologis dan atau secara antigen tidak tergantung pada tes awal ElA. Oleh karena hasil dari sebuah tes antibodi HIV yang positif sangat berarti bagi seseorang, maka direkomendasikan bahwa tes awal yang positif harus di konfirmasikan lagi dengan spesimen kedua dari pasien untuk mencegah kemungkinan terjadinya kesalahan pada pemberian label atau kesalahan penulisan hasil tes. Teknik pemeriksaan cepat darah dan transudat mukosa sangat membantu pelayanan laboratorium dan konseling. Strategi testing yang digunakan sangat tergantung pada tujuan dilakukannya testing.
Untuk tujuan surveilans, strategi testing yang diterapkan berbeda-beda tergantung tingkat prevalensi infeksi HlVdi suatu wilayah. Tes tunggal disarankan digunakan di wilayah dengan prevalensi > look; di wilayah dengan prevalensi < 1lo/o, minimal 2 tes yang berbeda dilakukan. Untuk tujuan diagnostik di daerah dengan prevalensi < 10%, 3 tes berbeda dilakukan untuk penderita asimptomatik, sedangkan untuk daerah dengan prevalensi > 10%, cukup dengan 2 jenis tes yang berbeda.
Pada umumnya, orang yang terinfeksi HIV akan membentuk antibodi yang terdeteksi dalam 1-3 bulan sesudah terinfeksi, kadang kala masa ini menjadi lebih panjang hingga 6 bulan, dan sangat jarang yang membentuk antibodi setelah 6 bulan. Tes lain untuk mendeteksi infeksi HIV selama periode sesudah terinfeksi namun belum terjadi serokonversi sudah tersedia, antara lain termasuk tes untuk sirkulasi antigen HIV (p2a) dan tes PCR untuk mendeteksi sequensi asam nukleik dari virus. Karena "window period" antara kemungkinan terdeteksinya virus yang paling cepat dan terjadinya serokonversi sangat pendek (< 2 minggu) maka diagnosa infeksi HIV dengan tes ini jarang dilakukan. Begitu pula tes ini kurang bermanfaat untuk mendiagnosa infeksi HIV pada bayi yang dilahirkan oleh wanita penderita AIDS, karena antibodi maternal anti-HlV yang diberikan secara pasif, kadang menyebabkan tes anti-HlV EIA pada bayi ini menunjukkan hasil "falsepositive" bahkan hingga umur'15 bulan.
Angka T-helper cell (CD4+) absolut atau persentasenya lebih sering digunakan untuk mengevaluasi beratnya infeksi HIV dan membantu para klinisi untuk memutuskan, terapi apa yang akan dilakukan. Tes beban virus (viral load fesf) saat ini telah tersedia, sebagai pertanda tambahan untuk mengikuti perjalanan penyakit serta reaksinya terhadap terapi. Perbedaan sensitivitas tes IEA dan tes lainnya seperti p24 antigenaemta membantu untuk mengetahui infeksi yang baru terjadi. Orang yang menunjukkan hasil positif terhadap tes yang sensitif dan negatif terhadap tes yang kurang sensitif kemungkinan infeksinya baru saja terjadi.
2. Penyebab penyakit
Virus Human lmmunodefisiensi (HlV) adalah sejenis retrovirus' Ada 2 tipe: tipe 1(HlV-'1 ) dan tipe 2 (HlV-2). Virus-virus ini secara serologis dan geografis relatif berbeda tetapi mempunyai ciri epidemiologis yang sama. Patogenisitas dari HIV-2 lebih rendah dibanding HIV-1. Kedua virus ini juga memiliki ciri genotipe dan fenotlpe yang berbeda dimana perjalanan penyakitnya lebih lambat dan penularan dari ibu ke anak lebih rendah pada HIV-2.
3.Distribusi penyakit
AIDS pertama kali dikenal pada tahun 1981 sebagai penyakit dengan entitas klinis yang aneh; namun secara retrospektif diketahui bahwa secara terbatas AIDS sudah muncul pada tahun 1970-an, bahkan mungkin lebih awal dari itu (ditemukan di Afrika, Eropa, Haiti dan AS). Catatan pada tahun 2003 dari perkiraan 40 juta (34 - 46 juta) orang yang terinfeksi HIV/AIDS di dunia, 25 - 28,2 juta orang ditemukan di daerah Sub-Sahara, 4,6 - 8,2 juta di Asia Selatan dan Asia Tenggara, 1,3 - 1,9 juta di Amerika Latin dan sekitar 800.000 - 1 juta orang di Amerika bagian Utara. Di seluruh dunia pada tahun 2003 diperkirakan orang yang meninggal karena AIDS sekitar 3,1 juta (2,5 - 3,5 luta) orang. Wabah infeksi HIV terus berlangsung, diperkirakan 5 juta (4,2 - 5,8 juta) infeksi baru terjadi, 2,5 juta (2,1 - 2,9 juta) anak hidup dengan HIV/AIDS. lnfeksi oleh virus HIV-1 yang paling umum terjadi, sedangkan infeksi oleh HIV-2 terjadi terutama di Afrika Barat dan di negara-negara lain yang secara epidemiologis berhubungan dengan Afrika Barat.
Dikebanyakan negara berkembang jumlah penderita AIDS lebih tinggi, namun sistem pelaporannya sangat lemah, upaya yang dilakukan lebih terfokus pada infeksi HIV daripada untuk menemukan penderita AIDS. Di beberapa negara maju distribusi penderita AIDS menurut faktor risiko dan perilaku telah banyak berubah selama sepuluh tahun terakhir sebagai contoh di AS walaupun wabah AIDS tetap menyerang terutama para homoseksual, namun pengguna NAPZA suntik (lntraveneous drug user/lDU) sumber utama penularan di negara maju lainnya seperti bekas negara Uni Soviet.
Di AS dan negara-negara industri lainnya insidensi HIV sempat menurun sebentar sebelum pertengahan tahun '1980-an, dan insidensi HIV ini bertahan tetap tetap rendah pa-da kebanyakan kelompok. Namun di negara-negara dengan insidensi HIV tinggi seperti di negara-negara Sub-sahara Afrika, insidensi tahunan HIV tetap tinggi tidak dapat diatasi. Di luar Sub-Sahara Afrika, jangka prevalensi HIV( >1%) ditemukan pada kelompok usia 15-49 tahun di Negara-negara Karibia, Asia Selatan dan Asia Tenggara.
4.Reservoir - manusia- Belakangan ini HIV diduga berasal dari virus Chimpanze.
5. Cara penularan
HIV dapat ditularkan dari orang ke orang melalui kontak seksual yang tidak dilindungi (baik homo maupun heteroseksual), penggunaan jarum dan Syringes yang terkontaminasi kontak dengan kulit yang lecet dengan sekret Atau bahan infeksius, transfusi darah atau komponen-komponennya yang terinfeksi; transplantasi dari organ dan jaringan yang terinfeksi HlV.
Sementara virus kadang-kadang ditemukan di air liur, air mata, urin dan sekret bronkial, penularin sesudah kontak dengan sekret ini belum pernah dilaporkan. Risiko dari penularan HIV melalui hubungan seks lebih rendah dibandingkan dengan Penyakit Menular seksual lainnya. Namun adanya penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual terutama penyakit seksual dengan luka seperti chancroid, besar kemungkinan dapat menjadi pencetus penularan HlV.
Determinan utama dari penularan melalui hubungan seksual adalah pola dan prevalensi dari orang -orang dengan "sexual risk behavior" seperti melakukan hubungan seks yang tidak terlindungi dengan banyak pasangan seks. carriers sering tanpa gejala, mereka tidak sadar akan status mereka. Tidak ada bukti epidemiologis atau laboratorium yang menyatakan bahwa gigitan serangga bisa menularkan infeksi HlV, iisiko penularan melalui seks oral tidak mudah diteliti, tapi diasumsikan sangat rendah.
Dari 15-35% bayi yang dilahirkan dari ibu dengan HIV (+) terinfeksi melalui plasenta pengobatan wanita hamil dengan antivirus seperti zidovudine mengurangi kejadian penularan kepada bayi (mother to child fransmission- MTCD secara bermakna. Sampai dengan tahun 1999 satu-satunya obat yang yang dapat mencegah infeksi perinatal adalah azidothimidine (AZT)' diberikan peroral pada kehamilan usia 14 minggu dan diteruskan sampai menjelang kelahiran; diberikan secara intravena pada saat melahirkan; diberikan secara oral pada bayl baru lahir pada 6 minggu pertama. cara-cara ini menurunkaqn transmisi perinatal sebesar 66%. Sedangkan pemberian AZT jangka pendek menurunkan angka transmisi 40%.
Hampir 50 % dari bayi yang'disusui oleh ibu dengan HIV (+) dapat tertular infeksi HlV. petugas feienatan yang terluka oleh jarum suntik atau benda tajam lainnya yang mengandung darah yang terinfeksi virus HlV, angka serokonversi mereka < 0,5 %, lebih rendah dari risiko terkena virus hepatitis B (25%) sesudah terpajan dengan cara yang sama. Penggunaan alat suntik yang tidak aman menyebabkan terjadinya penularan sekitar 5%.
6. Masa inkubasi
Bervariasi. Walaupun waktu dari penularan hingga berkembang atau terdeteksinya antibodi, biasanya 1 - 3 bulan, namun waktu dari tertular HIV hingga teriiagnosa sebagai AIDS sekitar < 1 tahun hingga 15 tahun atau lebih. Tanpa pengobatan anti-HlV yang efektif, sekitar 50 % dari orang dewasa yang terinfeksi akan terkena AIDS dalam 10 tahun sesudah terinfeksi. Mediian masa inkubasi pada anak-anak yang terinfeksi lebih pendek dari orang dewasa.
Bertambahnya ketersediaan terapi anti HlVsejak pertengahan tahun 1990-an mengurangi perkembangan AIDS di AS dan di banyak negara maju secara bermakna. Beberapa fakta di lapangan menunjukan bahwa perkembangan dari infeksiHlV menjadi AlDS lebih cepat ierjadi di negara berkembang dibandingkan negara maju. Namun cepatnya'perkembangan dari infeksi HIV menjadi AIDS tergantung pada usia saat terkena infeksi HIV dewasa muda dan orang dewasa yang mendapat infeksi HIV pada usia lebih muda lebih lambat menjadi AIDS jika infeksi terjadi pada usia lebih tua. Perkembangan penyakit juga tergantung pada sub tipe virus.
7. Masa penularan
Tidak diketahui, diperkirakan mulai berlangsung segera sesudah infeksi HIV dan berlangsung seumur hidup. Bukti-bukti epidemiologis menyatakan bahwa infektivitas meningkat dengan bertambahnya viral load, adanya defisiensi imunologis, gelala-gejala klinis yang memburuk dan adanya penyakit menular seksual (PMS) lainnya. Studi epidemiologis menyatakan bahwa infektivitas menjadi tinggi selama bulan-bulan awal sesudah infeksi. Ditemukannya virus bebas atau virus dalam sel didalam sekret, PMS dengan ulkus atau inflamasi merupakan faktor risiko.
8. Kerentanan dan kekebalan
Tidak diketahui, tetapi semua orang diduga rentan : ras, jenis kelamin dan kehamilan tidak mempengaruhi suseptibilitas terhatap infeksi HIV atau AIDS. Adanya sTD lain, terutama kalau ada ulcus, menambah suseptibilitas, begitu juga pada pria yang tidak dikhitan dan tidak higienis. Faktor terakhir ini terkait bengan masalah kebersihan penis. Mengapa penduduk Afrika yang terkena infefeksi HIV lebih cepat berkembangnya menjadi AIDS dibandingkan dengan populasi lain, masih terus dalam penelitian. satu - satunya faktor yang dapat diterima, yang mempengaruhi perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS adalah usia pada saat infeksi.
Dewasa muda dan pria serta wanita dewasa yang terinfeksi HIV pada usia muda, biasanya lambat menderita AIDS, dibandingkan jika terinfeksi pada usia lebih tua. Adanya potensi interaksi antara infeksi HIV dengan infeksi penyakit lainnya menjadi masalah kesehatan masyarakat yang memprihatinkan. Lnterkasi utama yang sampai saat ini diketahui adalah interaksi HIV dengan Mycobacterium m Tuberculosis (Mtbc) Mereka yang didalam tubuhnya mengidap infeksi MTbc laten, jika terinfeksi HlV akan berkembang menjadi penderita TB klinis dengan cepat.
Dikatakan risiko seorang dewasa terkena TB adalah 10%, namun jika mereka terinfeksi HlV maka risikonya menjadi 60 - 80% terkena TB atau 6-g kali. Interaksi antara HIV dengan Mtbc mengakibatkan terjadinya pandemi TB paralel dengan HlV/AlDS. Di negara-negara sub Sahara didaerah perkotaan 10-1 5 % orang dewasa mengalami infeksi HIV dan Mtbc secara bersamaan ("Dual lnfection"), didaerah ini angka prevalensi TB meningkat 5-10 kali lipat pada pertengahan tahun 1990 an.
Tidak ada bukti konkiusif yang menunjukkan bahwa infeksi lain termasuk TB mempercepat perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS. lnteraksi infeksi HIV dengan penyakit lain yang menimbulkan gejala klinis yang berat antara lain infeksi pneumococcus, salmonellosis nonlyphi, malaria fatciparum dan visceral leishmaniasis (kala-azhar). Belakangan ini banyak bukti menunjukkan bahwa adanya chemokine-receptor polymorphisms pada seseorang, menurunkan tingkat kerentanan.
9. Cara-cara Pencegahan
A. Upaya Pencegahan
Program pencegahan HIV/AIDS hanya dapat efektif bila dilakukan dengan komitmen masyarakat dan komitmen politik yang tinggi untuk mencegah dan atau mengurangi perilaku risiko tinggi terhadap penularan HlV. Upaya pencegahan meliputi :
1)Pemberian penyuruhan kesehatan di sekorah dan di masyarakat . harus rnenekankan bahwa mempunyai pasangan seks yang berganti-ganti serta penggunaan alat suntik bergantian dapat meningkatkan risiko terkena infeksi HlV. pelajar dan pemuda juga harus dibekali pengetahuan bagaimana untuk menghindari atau mengurangi kebiasaan yang mendatangkan risiko terkena infeksi HlV.
Program untuk anak sekorah harus dikembangkan sedemikian rupa sesuai dengan perkembangan mental serta kebutuhan mereka, begltu juga bagi mereka yang tidak sekolah. Kebutuhan kelompok minoritas, orang-orang dengan bahasa dan budaya yang berbeda, bagi penderita tuna netra serta tuna rungu juga harui dipikirkan.
2) satu-satunya jalan agar tidak terinfeksi adarah dengan tidak melakukan hubungan seks atau hanya berhubungan seks dengan satu orang yang diketahui tidak mengidap infeksi. pada situasi lain kondom lateks harus digunakan dengan benar setiap kali seseorang melakukan hubungan seks secara vaginal, anal atau oral. Kondom lateks dengan pelumas berbahan dasar air dapat menurunkan risiko penularan melalui hubungan seks.
3) Memperbanyak fasilitas pengobatan bagi pecandu obat terlarang akan mengurangi penularan HlV. Begitu pula program “Harm reduction"yang menganjurkan para pengguna jarum suntik untuk menggunakan metode dekontaminasi dan menghentikan penggunaan jarum bersama telah terbukti efektif menurunkan penularan HlV.
4) Menyediakan fasilitas Konseling dan testing HIV dimana identitas penderita dirahasiakan atau dilakukan secara anonimus serta menyediakan tempat-tempat untuk melakukan pemeriksaan darah. Fasilitas tersebut saat ini telah tersedia di seluruh negara bagian di AS. Konseling, tes HIV secara sukarela dan rujukan medis dianjurkan dilakukan secara rutin pada klinik keluarga berencana dan klinik bersalin, klinik bagi kaum homo dan terhadap komunitas risiko tinggi dimana seroprevalens HIV tinggi.
Orang yang aktivitas seksualnya tinggi disarankan untuk mencari pengobatan yang tepat bila menderita Penyakit Menular Seksual (PMS). Konseling terhadap pasangan menikah dan yang akan menikah, serta terhadap mereka yang merasa khawatir ("worried well').
5) setiap wanita hamil sebaiknya sejak awal kehamilan disarankan untuk dilakukan tes HIV sebagai kegiatan rutin dari standar perawatan kehamilan. lbu dengan HIV positif harus dievaluasi untuk memperkirakan kebutuhan mereka terhadap terapi ARV seperti zidovudine (ZDV) untuk mencegah penularan HIV melalui uterus dan perinatal. Ada bukti-bukti menunjukkan bahwa pada pemberian ASI eksklusif risiko penularan HIV meolalui ASI lebih kecil jika dibandingkan dengan pada pemberian ASI partial.
6)Berbagai peraturan dan kebijakan telah dibuat oleh USFDA, untuk mencegah kontaminasi HIV pada plasma dan darah. Semua darah donor harus diuji antibodi HIV-nya. Hanya darah dengan hasil tes negatif yang digunakan.
Orang yang mempunyai kebiasaan risiko tinggi terkena HIV sebaiknya tidak mendonorkan plasma, darah, organ-organ untuk transplantasi, sel atau jaringan (termasuk cairan semen untuk inseminasi buatan). lnstitusi (termasuk bank sperma, bank susu atau bank tulang) yang mengumpulkan plasma, darah atau organ harus menginformasikan tentang peraturan dan kebijakan ini kepada donor potensial dan tes HIV harus dilakukan terhadap semua donor. Apabila mungkin, donasi sperma, susu atau tulang harus dibekukan dan disimpan selama 3 _ 6 bulan. Donor yang tetap negatif setelah masa itu dapat di asumsikan tidak terinfeksi pada waktu menjadi donor.
7) Jika hendak melakukan transfusi, dokter harus melihat kondisi Pasien dengan teliti apakah ada indikasi medis unluk transfusi. Transfusi otologus sangat dianjurkan.
8) Hanya produk iaktor pembekuan darah yang sudah di seleksi. Dan Yang tetah diperlakukan dengan semestinya untuk menonaktifkanHIV yang bisa digunakan.
9) Sikap hati-hati harus dilakukan pada waktu penanganan pemakaian dan pembuangan jarum suntik atau semua jenis alat alat yang berujung tajam lainnya agar tidak tertusuk.
Petugas kesehatan harus menggunakan Sarungtangan lateks, pelindung Mata dan alat pelindung lainnya untuk menghindari kontak dengan darah atau cairan yang mengandung darah. Setiap tetes darah pasien yang mengenai tubuh petugas kesehatan harus dicuci dengan air sabun sesegera mungkin. Kehati-hatian ini harus di lakuk an pada semua pasien dan semua prosedur laboratorium (tindakan kewaspadaan universal).
10) WHO merekomendasikan pemberian imunisasi bagi anak-anak dengan infeksi HIV tanpa gejala dengan vaksin-vaksin EPI {EXPANDED PROGRAMME ON IMMUNIZATION); anak-anak yang menunjukkan gejala sebaiknya tidak mendapat vaksin BCG. Di AS BCG dan vaksin oral polio tidak direkomendasikan untuk diberikan kepada anak-anak yang terinfeksi HlV tidak perduli terhadap ada tidaknya gejala, sedangkan vaksin MMR (measles-mumps-rubella) dapat diberikan kepada anak dengan infeksi HIV.
B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitarnya
1) laporan kepada instansi kesehatan setempat; mengirimkan laporan resmi kasus AlDS adalah wajib disemua jajaran kesehatan di AS dan hampir di semua negara di dunia. Sebagian besar negara bagian di AS menerapkan sistem pelaporan infeksi HIV.Laporan resmi mungkin dibutuhkan di berbagai negara atau provinsi.
2) lsolasi; mengisolasi orang dengan HIV positif secara terpisah tidak perlu, tidak efektif dan tidak dibenarkan. "Universal Precaution''(kewaspadaanuniversal)(q v)diterapkan untuk semua penderita yang dirawat. Tindakan kewaspadaan tam bahan tertentu perludilakukanpadainfeksispesifikyangterjadipadapenderita AIDS.
3). Disinfeksi serentak; dilakukan terhadap alat alat yang terkontaminasi dengan darah atau cairan tubuh dengan menggunakan larutan pemutih (chlorine) atau germisida tuberkulosidal yang efektif terhadap M. tuberculosls.
4). Karantina; tidak diperlukan. Penderita HIV/AIDS dan pasangan seks mereka sebaiknya tidak mendonasikan darah, plasma, organ untuk transplantasi, jaringan, sel, semen untuk inseminasi buatan atau susu untuk bank susu manusia.
5). lmunisasi dari orang orang yang kontak; tidak ada.
6). lnvestigasi terhadap kontak dan sumber infeksi; Di AS pasangan seks dari para penderita HIV/AIDS atau pasangan pengguna jarum suntik bersama, bila memungkinkan, di laporkan sendiri oleh si penderita. Rujukan oleh petugas di benarkan bila pasien, sesudah dilakukan konseling, tetap menolak untuk memberitahukan pasangan seks mereka, dan untuk itu petugas harus betul-betul yakin bahwa tidak akan terjadi sesuatu yang membahayakan kasus indeks bila pasangannya diberitahu. Tindakan yang sangat hati-hati harus dilakukan untuk melindungi kerahasiaan penderita.
7). Pengobatan spesifik: di sarankan untuk melakukan diagnosa dini dan melakukan rujukan untuk evaluasi medis. Rujuklah sumber informasi mutakhir tentang obat yang tepat, jadwal dan dosisnya.
Pedoman pengobatan HIV/AIDS yang selalu diperbaharui setiap saat tersedia pada "CDC National Clearing house" (1-800458-5231) dan dapat diakses melalui Clearing house World Wide Website (http:www.cdcnpin.org), website WHO dan UNAIDS.
a) Sebelum ditemukan pengobatan antiretrovirus yang relatif efektif, dan tersedia secara rutin di AS sekitar tahun 1990-an, pengobatan yang ada pada waktu itu hanya ditujukan kepada penyakit oppoftunistic yang diakibatkan oleh infeksi HlV. Penggunaan TMP-SMX oral untuk tujuan profilaktik, dengan pentamidin aerosol sebagai back up yang agak kurang efektif, direkomendasikan untuk mencegah pneumonia p. carinii. Semua orang yang terinfeksi HIV terhadap mereka harus dilakukan tes tuberkulin dan dievaluasi apakah mereka penderita TBC aktif. Jika diketahui menderita TB aktif, pasien harus diberi terapi anti tuberkulosa. Jika bukan TB aktif, pasien dengan tes tuberkulin positif atau yang anergik tetapi baru saja terpajan dengan TB harus diberikan terapi dengan isoniazid untuk 12 bulan (dewasa ini bervariasi secara individual).
b) AIDS harus ditangani sebagai penyakit kronis; dan harus diingat. bahwa pengobatan dengan ARV adalah sangat kompleks, merupakan terapi kombinasi; penggunaan teripi ARV single mempercepat terjadinya resistensi. ARV merupakan obat yang toksik dan harus diminum seumur hidup, disiplin minum obat merupakan kunci sukses pengobatan. Pengobatan dengan ARV tidak untuk menyembuhkan namun untuk menekan replikasi virus. Keputusan untuk memulai atau merubah terapi antiretrovirus harus di pandu dengan memonitor hasil pemeriksaan parameter laboratorium baik Plasma HIV RNA (viral load) maupun jumlah sel CD4+T dan dengan melihat kondisi klinis dari pasien. Hasil dari dua parameter ini memberikan informasi penting tentang status virologi dan imunologi dari pasien dan risiko dari perkembangan penyakit menjadi AIDS. Sekali keputusan untuk memberi terapi antiretrovirus diambil, pengobatan harus di lakukan dengan agresif dengan tujuan menekan virus semaksimal mungkin. Pada umumnya, harus diawali dengan penggunaan inhibitor protease dan dua inhibitor "non nucleoside reverse transcriptase". Regimen lain mungkin digunakan tetapi dianggap kurang optimal. Pertimbangan spesifik di berikan kepada orang dewasa dan wanita hamil, dan bagi pasien pasien ini sebaiknya digunakan regimen pengobatan spesifik.
c) Hingga pertengahan tahun 1999, satu-satunya obat yang dapat mengurangi risiko penularan HlV.perinatal hanya AZI dan di berikan sesuai dengan regimen berikut: diberikan secara oral sebelum kelahiran, mulai 14 minggu usia kehamilan dan diteruskan sepanjang kehamilan, diberikan intravena selama periode intra-partum; diberikan oral bagi bayi baru lahir hingga berusia 6 minggu. Regimen "chemoprophylactic" ini menurunkan risiko penularan HIV hingga 66 "k. Terapi AZT yang lebih singkat mengurangi risiko penularan hingga 40%.
Dari studi di Uganda, dilaporkan bahwa pada bulan Juli 1999 dosis tunggal nevirapine yang diberikan kepada ibu yang terinfeksi HIV diikuti dengan dosis tunggal kepada bayi hingga berusia 3 hari, memberi hasil yang lebih baik dibandingkan dengan kedua terapi diatas. Hanya 13,1% dari bayi yang mendapat terapi nevirapine yang lerinfeksi HlV, dibandingkan dengan 25,1 % dari kelompok yang mendapat terapi AZT. Harga Neviraprne kurang dari 4 dolar satu dosisnya, sehingga prospek untuk melindungi penularan ibu ke anak di negara berkembang lebih memungkinkan di era milenium ini.
Namun, kurang tersedianya fasilitas tes HIV dan jasa konsultasi bagi wanita hamil di negara-negara berkembang yang termiskin di Af rika tetap merupakan sebuah tantanEan yang berat. Disamping itu kurang tersedianya pengobatan anti HIV bagi orang dewasa membuat angka anak-anak yang menjadi yatim piatu bertambah di negara-negara ini.
d) Kewaspadaan untuk mengurangi risiko tertulari harus ditekankan dan diterapkan di seluruh fasilitas kesehatan. Manajemen terhadap tenaga kesehatan yang sehari-harinya terpajan darah dan cairan tubuh yang mungkin mengandung virus HIV sangat kompleks. Sifat pajanan dan faktor-faktor seperti kemungkinan hamil dan strain HIV yang resisten terhadap obat harus dipertimbangkan sebelum Profilaksis HIV pasca pemajanan (Postexposure prophylaxis = PEP) di berikan. Akhir tahun 1999, pemberian PEP yang dianjurkan termasuk pemberian regimen dasar selama 4 minggu yang terdiri dari 2 jenis obat (zidovudine danramivudine ) untuk semua jenis pemajanan HlV, termasuk juga regimen yang telah dikembangkan, dengan tambahan protease inhibitor (indinavir atau nelfinavir) yang ditujukan bagi orang yang terpajan kuman HIV yang keberadaannya membuat meieka ilempunyai risiko tinggi terturar atau untuk mereka yang diketahui atau dicurigai resisten terhadap satu atau rebih obat antiretrovirar yang direkomendasikan untuk PEP. lnstitusi pelayanan kesehatan seharusnya mempunyai pedoman yang mempermudah dan memberikan akses yang tepat untuk perawatan pasca pemajanan bagi petugas kesehatan dan pengembangan sistem pencatatan dan pelaporan peristiwa pemajanan.
C) Penanggulangan wabah
HIV saat ini sudah pandemik, dengan jumlah penderita yang sangat besar di raporkan di Amerika, Eropa,-Afrika dan Asia Tenggara. Lihat cara-cara pencegahan 9A di atas untuk rekomendasi.
D) lmplikasi bencana
Petugas emergensi harus mengikuti prosedur kewaspadaan universar, jika sarung tangan rateks tidai tersedia dan permukaan kulit kontak dengan darah, harus dicuci sesegera mungkin. Masker, kacamata pelindung dan pakaian pelindung di slrankan untuk dipakai ketika melakukan tindakan yang bisa menyeoabkan semburan atau percikan darah atau cairan lubuh. Transfusi untuk keadaan darurat sebaiknya menggunakan darah donor yang telah diskrining terhadap antibodi HlV, jika uji saring tidak mungkin dilakukan mJka donasi sebaiknya di terima hanya dari donor yang tidak mempunyai peritaku yang memungkinkan terinfeksi oleh HlV, dan lebih disukai iono, yang sebelumnya terbukti negatif untuk antibodi HlV.
E) Tindakan lnternasional
Program pencegahan dan pengobatan global dikoordinasi oleh WHO yang dimurai pada tahun 1987. Sejak tahun 1995, program AIDS global dikoordinaslkan oleh UNAIDS. Sebenarnya semua negara di seluruh dunia telah mengembangkan program perawatan dan pencegahan AIDS. Beberapa negara telah melembagakan keharusan pemeriksaan AIDS atau HIV untui masuknya pendatang asing (terutama bagi mereka yang meminta visa tinggal atau visa yang lebih panjang, seperti visa belajar atau visa kerja) WHO dan UNAIDS belum mendukung tindakan ini.
PEMBAHASAN DIABETES MELITUS
(ENDOGEN)
1) Diabetes melitus (DM)
Kencing manis Pada tahun 1552 sebelum masehi, di Mesir dikenal penyakit yang ditandai dengan sering kencing dan dalam jumlah yang banyak ( yang disebut : Poliurial ), dan penurunan berat badan yang cepat tanpa disertai rasa nyeri. Kemudian pada tahun 400 sebelum masehi, penulis India sushratha menamakan penyakit tersebut : penyakit kencing manis.
Akhirnya, Aretaeus pada tahun 200 sebelum masehi adalah orang yang pertama kali memberi nama : Diabetes, berarti “mengalir terus”, dan Mellitus berarti “manis”. Disebut Diabetes, karena selalu minum dan dalam jumlah banyak ( Polidipsia ), yang kemudian “mengalir” terus berupa air seni ( urine ); disebut Mellitus karena air seni penderita ini mengandung gula ( manis ).
Pada dasarnya, Diabetes Mellitus (DM) atau penyakit kencing manis disebabkan hormon INSULIN penderita tidak mencukupi, atau tidak dapat bekerja normal, sedangkan hormon insulin tersebut mempunyai peranan utama untuk mengatur kadar glukosa ( = gula ) didalam darah sekitar 60 – 120 mg/dl waktu puasa dan di bawah 200 mg/dl pada dua jam sesudah makan.
Sejak ditemukan hormon insulin pada tahun 1921 oleh Banting dan Best di Kanada, maka angka kematian dan keguguran ibu-ibu diabetes yang hamil makin berkurang. Akhirnya pada tahun 1954 Franke dan Fuchs mencoba tablet OAD ( Obat Anti Diabetes ) pada manusia, yang akhirnya temuan OAD ini berkembang pesat dengan berbagai jenis dan indikasi penggunaanya.Maksud informasi ini bukanlah untuk membuat takut bagi pembaca terhadap komplikasi yang mungkin terjadi pada penderita Diabetes Mellitus, melainkan bertujuan agar pembaca :
1. Mengenal apakah Diabete Mellitus itu.
2. Mengetahui bahwa Diabetes Millitus adalah penyakit yang tidak berbahaya asal tidak diremehkan.
3. Terlatih untuk melakukan usaha pencegahan terhadap Diabets Mellitus.
4. Mengetahui bahwa diit memegang peranan utama dalam pengobatan Diabetes Mellitus.
5. Dapat melaksanakan diit diabetes yang benar, agar yang terkena Diabetes Mellitus dapat sehat kembali.
APAKAH PENYAKIT DIABETES MELLITUS ITU?
Seperti telah disebut diatas bahwa hormon insulin yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas (kelenjar pankreas terletak di lekukan usus dua belas jari ) sangat penting untuk menjaga keseimbangan kadar gula ( glukosa ) darah antara 60 – 120 mg/dl waktu puasa dan kadar gula dalam dua jam sesudah makan di bawah 200 mg/dl. Apabila terdapat gangguan kerja insulin, baik kualitas maupun kualitas, maka keseimbangan tersebut akan terganggu dan kadar gula darah cenderung naik.
Seseorang sudah dapat disebut Diabetes Mellitus apabila menderita 2 dari 3 yang tersebut di bawah ini:
1. Keluhan haus, banyak minum, banyak kencing, penurunan berat badan.
2. Kadar gula darah lebih dari 120 mg/dl, pada waktu puasa.
3. Kadar gula darah lebih dari 200 mg/dl, 2 jam sesudah makan.
Karena kadar gula darah meningkat, maka kelebihan gula ( glukosa ) tersebut akan dikeluarkan melalui air seni dan terjadilah glukosuria ( yaitu adanya glukosa – gula di dalam air seni ); pada orang normal tidak terdapat glukosa di dalam air seninya.
Adanya gula di dalam air seni ini dapat diketahui dengan beberapa cara, antara lain :
1. Air seni penderita tersebut segera didatangi semut karena mengandung gula
2. Adanya rasa manis di air seni ( Dr. Thomas Willis dari Inggris pernah mencoba menjilatinya )
3. Timbul rasa gatal di kemaluan pada bekas kencing
Dan yang paling tepat adalah pemeriksaan terhadap adanya glukosa atau gula di dalam air seni, dengan cara :
A. Reaksi Fehling ( reaksi rebus )
B. Kertas strip yang disebut BM test
C. Kertas strip lain : Glukotest
D. Kertas strip yang disebut Diastix
E. Reaksi dengan tablet, yaitu dengan Clinitest.Salah satu atau beberapa cara ( a, b, c, d ) tersebut biasanya telah diketahui oleh penderita Diabetes Mellitus.
Penyakit Diabetes Melitus atau yang umum sebut penyakit “Kencing Manis”, atau “Penyakit Gula Darah” sekarang ini sudah menjadi penyakit “sejuta umat”….
Mengapa demikian? Hal ini banyak disebabkan oleh Life Style Modern/Pola Hidup Modern yang terbiasa dengan mengkonsumsi Fast Food, Goreng gorengan, Rasa Gurih/berlemak, kurang buah dan sayuran…
Disamping itu masyarakat umumnya menganggap bahwa penyakit Kencing Manis hanya diakibatkan terlalu banyak makan minum yang manis manis, sehingga cara mencegah dan mengobatinya cukup dengan diet makanan dan minuman yang manis manis atau mengandung banyak karbohidrat (nasi dan sejenisnya)…sehingga dianggap tidaberbahaya…
Sebenarnya kalangan kedokteran menamakan penyakit Diabetes Melitus sebagai “Mother Of Deases”…”Ibu Dari Berbagai Penyakit…”
Mengapa dinamakan demikian?…Karena bila seseorang sudah mengidap penyakit kencing manis, berarti darahnya tercemar oleh gula yang menyebar keseluruh organ tubuh penting lainnya dan merusak organ tersebut.
Organ apa saja yang bisa dirusak?…
Pertama adalah Otak…orang akan menjadi menderita pikun/pelupa …
Kedua adalah mata…orang akan menderita rabun mata sampai buta…
Ketiga ginjal, orang akan menderita gagal ginjal dan harus cuci darah…
Keempat alat kelamin, untuk pria akan menderita impoten….
Dan banyak yang lain lagi…
Benarkah pengobatannya cukup dengan diet minum dan makan yang manis manis atau yang bisa berubah menjadi glukosa dalam darah?…..Sepengetahuan saya jawabnya adalah tidak benar!!!
Diet tersebut hanya akan menjaga penyakit tidak semakin parah dan menunda kerusakan organ yang rusak….
Sebenarnya apa yang harus dilakukan?…
Yang harus dilakukan adalah ia harus mengobati organ Pankreasnya yang berfungs menghasilkan Insulin yang akan memproses metabolisme gula yang ada dalam darah menjadi enerji ( Glukosa diproses menjadi glukogen yang diperlukan untuk energi dalam aktivitas otot dll)…
Apa obat Pangkreas?…banyak, tapi pilihlah yang bukan kimiawi, cari yang organik…agar tidak menghasilkan limbah racun yang akan merusak Lever dan Ginjal…
Herbal yang sering digunakan mengobati penyakit kencing manis seperti daun salam; ramuan rebusan daun jambu, kunyit putih dan rambut jagung dll sebenarnya hanya memiliki efek mengurangi kadar gula dalam darah, tidak memperbaiki Pankreasnya !!!
Untuk memperbaiki Pankreas, harus dilakukan upaya serius, yaitu disamping diet yang ketat terhadap makanan dan minuman yang mengandung gula dan karbohidrat, juga harus olah raga rutin dibawah sinar matahari pagi antar jam 6-8 , serta mengkonsumsupelmen yang mengandung omega 3(minyak ikan laut dalam, sunclorela, crypto, ikan salmon dll)…
Olahraga rutin setiap hari dibawah matahari pagi akan menyerap Sinar Far Infra Red (Biofir) yang sangat bermanfaat membantu proses metaolisme tubuh secara sangat efektif)…akan membantu oroses perbaikan dan pembuatan sel baru organ tubuh yang rusak….
Demikian juga 0mega 3 akan membantu proses metabolisme pembentukan sel baru organ tubuh yang rusak dan melindungi inti sel organ tubuh kita…
Diet ketat akan membantu menurunkan kadar gula dalam darah agar metabolisme tubuh menjadi lebih lancar daqn mengurangi pencemaran gula pada organ tubuh yang rusak….
Jadi yang harus dilakukan adalah:
Lakukan positif thinking; Olah raga rutin/intensif dibawah sinar matahari pagi antara jam 6-8 pagi; Diet ketat mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula/karbohidrat; Makan dan minum supelmen mengandung Omega 3 tinggi; Secara berangsur mengurangi obat kimiawi dan menggantinya dengan supelmen herbal dalam dosis yang tepat…
Dari semua hal yang disebut diatas, menurut pengalaman saya, pengaruh olah raga rutin dibawah sinar matahari pagi adalah yang sangat mudah, murah dan efektif, tidak mengandung resiko apapun, tapi justru memperkuat jantung dan paru paru…
2). Prevalensi Penderita Diabetes
Salah satu penyakit yang erat berkaitan dengan pola hidup tidak sehat adalah diabetes. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), lebih dari 220 juta orang di seantero dunia mengidap diabetes. bahkan 90 persen penderita diabetes tipe dua (diabetisi) di dunia banyak terkait problem berat badan berlebih dan kurang aktivitas fisik.
Masih dari data WHO, hampir 50 persen kasus kematian karena diabetes terjadi di bawah umur 70 tahun; 55 persen di antaranya terjadi pada wanita. Bahkan, WHO memprediksi angka kasus kematian karena diabetes akan bertambah dua kali pada rentang tahun 2005 hingga 2030.
Sementara itu, prevalensi penderita diabetes di Indonesia menunjukkan tren meningkat. Diperkirakan 11,98 juta orang menjadi penderita diabetes. Tambahan lagi, Persadia memperkirakan sekitar 50 persen diabetisi belum terdiagnosis. Hal ini perlu menjadi perhatian dan kesadaran bersama.
3).Penyebab Diabetes
Faktor risiko diabetes banyak terjadi pada keluarga yang memiliki riwayat menderita diabetes. Di sisi lain berat badan berlebih (indeks massa tubuh lebih dari 23 kg/m2), kurang aktivitas fisik, hipertensi, atau diet tinggi gula rendah serat. Untuk pola konsumsi yang kurang sehat, yakni dengan karbohidrat berlebih, juga bisa menjadi penyebab. Pasalnya, orang Indonesia lazim mengonsumsi makanan berkarbohidrat.
Kita akan merasa aman untuk mengonsumsi nasi dengan kentang atau mi sebagai lauknya supaya cepat kenyang. Padahal sesungguhnya kedua makanan itu sama-sama mengandung karbohidrat sehingga asupan karbohidrat menjadi berlebihan. Selain itu, kebiasaan sebagian masyarakat Indonesia yang banyak mengonsumsi gula turut memperburuk keadaan. Pagi hari minum segelas teh manis, agak siang dan sore minum segelas kopi manis. Selanjutnya, sesudah makan siang, makan puding manis, dan saat bertamu disuguhi segelas sirup manis. Kalau semua itu dikonsumsi dalam sehari, begitu banyak konsumsi gula yang bisa membahayakan kesehatan.
4). Pola Makan Sehat
Perubahan gaya hidup ke arah yang lebih sehat dapat dilakukan melalui peningkatan aktivitas fisik dengan berolahraga dan juga diet dengan mengurangi asupan karbohidrat serta menjaga berat badan ideal. Oleh karena itu, tentunya kita perlu pandai-pandai memilih jenis karbohidrat juga untuk jumlahnya. Hindari konsumsi karbohidrat sederhana secara berlebihan. Misalnya gula pasir, madu, sirup, selai, soft drink, dan jajanan manis. Untuk asupan gula pasir, sebaiknya tidak lebih dari lima persen total kalori harian.
Sebaliknya, perbanyak konsumsi karbohidrat kompleks seperti padi-padian, umbi-umbian, sagu, serat, serta gula ada secara alami dari buah, sayuran, dan susu. Prinsip yang dianjurkan yaitu para diabetisi mengasup zat makanan karbohidrat, lemak, dan protein sebanyak masing-masing 45-65 persen, 20-25 persen, dan 10-20 persen dari total kalori dalam makanan sehari.
Untuk mengukur banyaknya asupan karbohidrat, Anda dapat memakai The Idaho Plate Method atau Zimbabwe Handjiwe yang diakui para pakar kesehatan. Cara ideal lainnya adalah menggunakan produk makanan yang mencantumkan dengan jelas jumlah dan jenis nutrisi yang terkandung di dalamnya.
Jadi langkah apa yang harus dilakukan sebagai upaya pencegahan supaya kita tidak terserang penyakit Diabetes melitus ? Kita musti ingat pedoman hidup sehat yaitu " LEBIH MENCEGAH DARIPADA MENGOBATI " . Berikut dibawah ini ada beberapa petunjuk untuk menjalani hidup sehat, yaitu :
1. Rutin melakukan olah raga pagi misalnya jogging, senam Tai Chi, senam Qi Gong , bersepeda santai, atau berenang.
2. Hindari makanan yang mengandung lemak / kolesterol yang banyak dijumpai pada makanan fast food, dan durian, mlinjo dan lain sebagainya
3. Sebaiknya menggunakan gula rendah kalori, seperti gula dari jagung
4. Hindari makanan atau minuman yang terbuat dari bahan - bahan artifisial dan banyak mengandung gula / karbohidrat seperti soft drink, dan ayam horen yang banyak disuntik hormon kimia supaya cepat gemuk.
5. Upayakan untuk makan pada sore hari paling lama jam 5 sore, supaya glukosa yang ada di dalam darah bisa terurai karena kita masih melakukan aktifitas .
6. Jangan lupa banyak minum air putih , sehari maksimal 2,5 liter
7. Upayakan untuk mengkonsumsi makanan berserat tinggi, seperti jeruk keprok, biji - bijian, dan sayuran.
8. Upayakan selalu berpikir positif , relax / tidak spaneng dalam menyikapi suatu persoalan yang sedang kita hadapi
9. Selalu bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa , atas semua rejeki dan kesehatan yang diberikan oleh-NYA. Dan musti tetap tawakal dan bersyukur juga meskipun kita sedang menghadapi suatu permasalahan yang pelik sekalipun, dan lain sebagainya.
Semua yang telah diuraikan di atas akan berjalan sebagaimana mestinya jika kita memang benar - benar ingin menjaga kesehatan tubuh kita supaya tetap sehat selalu yaitu dengan niat yang sepenuh hati untuk menjalani pola hidup sehat. Jika kita bijaksana dalam menjaga kesehatan diri kita sendiri, seyogyanya kita selalu merealisasikan pedoman hidup supaya kita bisa menjaga kesehatan kita yaitu LEBIH BAIK MENCEGAH DARIPAD MENGOBATI PENYAKIT APAPUN JENISNYA ! !
PEMBAHASAN INFEKSI PENYAKIT HIV, AIDS
(EXOGEN)
1.ldentifikasi Acquired lmmunodeficiency Syndrome
AIDS adalah terminologi sindroma penyakit yang pertama kali digunakan oleh para ahli epidemiologi terhadap sekelompok orang dewasa yang kehilangan imunitas seluler tanpa sebab yang jelas pada tahun 1981. Sindroma ini menggambarkan tahap klinis akhir dari infeksi HlV. Beberapa minggu hingga beberapa bulan sesudah terinfeksi, sebagian orang akan mengalami penyakit self-limited mononucleosis-like akut yang akan berlangsung selama I atau 2 minggu. Orang yang terinfeksi mungkin tidak menunjukkan tanda atau simplom selama beberapa bulan atau tahun sebelum manifestasi klinis lain muncul. Berat ringannya infeksi "opportunistic" atau munculnya kanker setelah terinfeksi HlV, secara umum terkait langsung dengan derajat kerusakan sistem kekebalan yang diakibatkannya. Definisi AIDS yang dikembangkan oleh CDC Atlanta tahun 1982 memasukkan lebih dari selusin infeksi 'bpportunistics" dan beberapa jenis kanker sebagai indikator spesifik akibat dari menurunnya kekebalan tubuh.
Apabila penegakan diagnosa didukung dengan pemeriksaan histologis/kultur standar, maka penyakit-penyakit ini dapat diterima sebagai definisi kasus AIDS asalkan penyebab defisiensi kekebalan lain tidak ditemukan. Di tahun 1987, definisi ini diperbaharui dan diperluas dengan memasukkan penyakit-penyakit indikator tambahan dan menerima beberapa penyakit indikator tersebut sebagai satu diagnosa presumtif bila tes laboratorium menunjukkan bukti adanya infeksi HlV. Di tahun 1993, CDC merubah kembali definisi surveilans dari AIDS dengan memasukkan penyakit indikator tambahan. Sebagai tambahan, semua orang yang terinfeksi HIV dengan CD4 + (hitung sel) < 2o}lcu mm atau pasien dengan CD4 + dan prosentase T-lymphocyte dari total lymphocyte < 14%, tanpa memperhatikan status klinis dianggap sebagai kasus AIDS.
Disamping kriteria rendahnya jumlah CD4, definisi CDC tahun 1993 secara umum sudah diterima untuk tujuan klinis di banyak negara maju, tetapi tetap terlalu kompleks bagi negaranegara berkembang. Negara-negara berkembang terkadang kekurangan fasilitas laboratorium yang memadai untuk pemeriksaan histologis atau diagnosis kultur bagi penyakit-penyakit indikator spesifik.
WHO merubah definisi kasus AIDS yang dirumuskan di Bangui, Afrika Tengah untuk digunakan dinegara berkembang pada tahun 1994: yaitu dengan menggabungkan tes serologi HIV, jika tersedia, dan termasuk beberapa penyakit indikator (seperti tuberkulosis, infeksi pneumococcus, salmonellosis non tifoid) sebagai pelengkap diagnostik bagi mereka yang seropositip. Pneumonia bakteriil adalah yang paling sering ditemukan. Manifestasi klinis dari HIV pada bayi dan balita tumpangtindih dengan imunodefisiensi turunan dan masalah kesehatan anak lainnya. CDC dan WHO telah mempublikasikan definisi kasus AIDS pada anak.
Proporsi orang yang terinfeksi HlV, tetapi tidak mendapat pengobatan anti- HIV dan akhirnya akan berkembang menjadi AIDS diperkirakan mencapai lebih dari 90 %. Karena tidak adanya pengobatan anti-HlV yang efektif, "case fatality rate" dari AIDS menjadi sangat tinggi, kebanyakan penderita di negara berkembang (80 - 90%) mati dalam 3 - 5 tahun sesudah didiagnosa terkena AIDS. Bagaimanapun, penggunaan obat-obatan profilaktik secara rutin untuk mencegah Pneumonia Pneumocystis cainii dan kemungkinan infeksi-infeksi lain di AS dan sebagain besar negara maju terbukti dapat menunda perkembangan AIDS dan mencegah kematian secara bermakna, mendahului tersedianya secara rutin obat anti-HlV yang efektif secara luas.
Tes serologis antibodi untuk HIV lersedia secara komersial sejak tahun 1985. Tes yang biasa digunakan, (ELISA/EIA) sangat sensitif dan spesifik. Namum walaupun tes ini hasilnya efektif, diperlukan tes tambahan lagi seperti Western Blot atau tes "indirect fluorescent antibody" (lFA). Tes tambahan dengan hasil negatif meniadakan tes EIA positif pertama; sedangkan jika hasilnya positif mendukung tes EIA positif pertama, dan hasil tes Western Blot yang meragukan membutuhkan evaluasi lanjutan.
WHO merekomendasikan sebagai alternatif penggunaan rutin Western Blot dan lFA, yaitu penggunaan tes lain yang secara metodologis dan atau secara antigen tidak tergantung pada tes awal ElA. Oleh karena hasil dari sebuah tes antibodi HIV yang positif sangat berarti bagi seseorang, maka direkomendasikan bahwa tes awal yang positif harus di konfirmasikan lagi dengan spesimen kedua dari pasien untuk mencegah kemungkinan terjadinya kesalahan pada pemberian label atau kesalahan penulisan hasil tes. Teknik pemeriksaan cepat darah dan transudat mukosa sangat membantu pelayanan laboratorium dan konseling. Strategi testing yang digunakan sangat tergantung pada tujuan dilakukannya testing.
Untuk tujuan surveilans, strategi testing yang diterapkan berbeda-beda tergantung tingkat prevalensi infeksi HlVdi suatu wilayah. Tes tunggal disarankan digunakan di wilayah dengan prevalensi > look; di wilayah dengan prevalensi < 1lo/o, minimal 2 tes yang berbeda dilakukan. Untuk tujuan diagnostik di daerah dengan prevalensi < 10%, 3 tes berbeda dilakukan untuk penderita asimptomatik, sedangkan untuk daerah dengan prevalensi > 10%, cukup dengan 2 jenis tes yang berbeda.
Pada umumnya, orang yang terinfeksi HIV akan membentuk antibodi yang terdeteksi dalam 1-3 bulan sesudah terinfeksi, kadang kala masa ini menjadi lebih panjang hingga 6 bulan, dan sangat jarang yang membentuk antibodi setelah 6 bulan. Tes lain untuk mendeteksi infeksi HIV selama periode sesudah terinfeksi namun belum terjadi serokonversi sudah tersedia, antara lain termasuk tes untuk sirkulasi antigen HIV (p2a) dan tes PCR untuk mendeteksi sequensi asam nukleik dari virus. Karena "window period" antara kemungkinan terdeteksinya virus yang paling cepat dan terjadinya serokonversi sangat pendek (< 2 minggu) maka diagnosa infeksi HIV dengan tes ini jarang dilakukan. Begitu pula tes ini kurang bermanfaat untuk mendiagnosa infeksi HIV pada bayi yang dilahirkan oleh wanita penderita AIDS, karena antibodi maternal anti-HlV yang diberikan secara pasif, kadang menyebabkan tes anti-HlV EIA pada bayi ini menunjukkan hasil "falsepositive" bahkan hingga umur'15 bulan.
Angka T-helper cell (CD4+) absolut atau persentasenya lebih sering digunakan untuk mengevaluasi beratnya infeksi HIV dan membantu para klinisi untuk memutuskan, terapi apa yang akan dilakukan. Tes beban virus (viral load fesf) saat ini telah tersedia, sebagai pertanda tambahan untuk mengikuti perjalanan penyakit serta reaksinya terhadap terapi. Perbedaan sensitivitas tes IEA dan tes lainnya seperti p24 antigenaemta membantu untuk mengetahui infeksi yang baru terjadi. Orang yang menunjukkan hasil positif terhadap tes yang sensitif dan negatif terhadap tes yang kurang sensitif kemungkinan infeksinya baru saja terjadi.
2. Penyebab penyakit
Virus Human lmmunodefisiensi (HlV) adalah sejenis retrovirus' Ada 2 tipe: tipe 1(HlV-'1 ) dan tipe 2 (HlV-2). Virus-virus ini secara serologis dan geografis relatif berbeda tetapi mempunyai ciri epidemiologis yang sama. Patogenisitas dari HIV-2 lebih rendah dibanding HIV-1. Kedua virus ini juga memiliki ciri genotipe dan fenotlpe yang berbeda dimana perjalanan penyakitnya lebih lambat dan penularan dari ibu ke anak lebih rendah pada HIV-2.
3.Distribusi penyakit
AIDS pertama kali dikenal pada tahun 1981 sebagai penyakit dengan entitas klinis yang aneh; namun secara retrospektif diketahui bahwa secara terbatas AIDS sudah muncul pada tahun 1970-an, bahkan mungkin lebih awal dari itu (ditemukan di Afrika, Eropa, Haiti dan AS). Catatan pada tahun 2003 dari perkiraan 40 juta (34 - 46 juta) orang yang terinfeksi HIV/AIDS di dunia, 25 - 28,2 juta orang ditemukan di daerah Sub-Sahara, 4,6 - 8,2 juta di Asia Selatan dan Asia Tenggara, 1,3 - 1,9 juta di Amerika Latin dan sekitar 800.000 - 1 juta orang di Amerika bagian Utara. Di seluruh dunia pada tahun 2003 diperkirakan orang yang meninggal karena AIDS sekitar 3,1 juta (2,5 - 3,5 luta) orang. Wabah infeksi HIV terus berlangsung, diperkirakan 5 juta (4,2 - 5,8 juta) infeksi baru terjadi, 2,5 juta (2,1 - 2,9 juta) anak hidup dengan HIV/AIDS. lnfeksi oleh virus HIV-1 yang paling umum terjadi, sedangkan infeksi oleh HIV-2 terjadi terutama di Afrika Barat dan di negara-negara lain yang secara epidemiologis berhubungan dengan Afrika Barat.
Dikebanyakan negara berkembang jumlah penderita AIDS lebih tinggi, namun sistem pelaporannya sangat lemah, upaya yang dilakukan lebih terfokus pada infeksi HIV daripada untuk menemukan penderita AIDS. Di beberapa negara maju distribusi penderita AIDS menurut faktor risiko dan perilaku telah banyak berubah selama sepuluh tahun terakhir sebagai contoh di AS walaupun wabah AIDS tetap menyerang terutama para homoseksual, namun pengguna NAPZA suntik (lntraveneous drug user/lDU) sumber utama penularan di negara maju lainnya seperti bekas negara Uni Soviet.
Di AS dan negara-negara industri lainnya insidensi HIV sempat menurun sebentar sebelum pertengahan tahun '1980-an, dan insidensi HIV ini bertahan tetap tetap rendah pa-da kebanyakan kelompok. Namun di negara-negara dengan insidensi HIV tinggi seperti di negara-negara Sub-sahara Afrika, insidensi tahunan HIV tetap tinggi tidak dapat diatasi. Di luar Sub-Sahara Afrika, jangka prevalensi HIV( >1%) ditemukan pada kelompok usia 15-49 tahun di Negara-negara Karibia, Asia Selatan dan Asia Tenggara.
4.Reservoir - manusia- Belakangan ini HIV diduga berasal dari virus Chimpanze.
5. Cara penularan
HIV dapat ditularkan dari orang ke orang melalui kontak seksual yang tidak dilindungi (baik homo maupun heteroseksual), penggunaan jarum dan Syringes yang terkontaminasi kontak dengan kulit yang lecet dengan sekret Atau bahan infeksius, transfusi darah atau komponen-komponennya yang terinfeksi; transplantasi dari organ dan jaringan yang terinfeksi HlV.
Sementara virus kadang-kadang ditemukan di air liur, air mata, urin dan sekret bronkial, penularin sesudah kontak dengan sekret ini belum pernah dilaporkan. Risiko dari penularan HIV melalui hubungan seks lebih rendah dibandingkan dengan Penyakit Menular seksual lainnya. Namun adanya penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual terutama penyakit seksual dengan luka seperti chancroid, besar kemungkinan dapat menjadi pencetus penularan HlV.
Determinan utama dari penularan melalui hubungan seksual adalah pola dan prevalensi dari orang -orang dengan "sexual risk behavior" seperti melakukan hubungan seks yang tidak terlindungi dengan banyak pasangan seks. carriers sering tanpa gejala, mereka tidak sadar akan status mereka. Tidak ada bukti epidemiologis atau laboratorium yang menyatakan bahwa gigitan serangga bisa menularkan infeksi HlV, iisiko penularan melalui seks oral tidak mudah diteliti, tapi diasumsikan sangat rendah.
Dari 15-35% bayi yang dilahirkan dari ibu dengan HIV (+) terinfeksi melalui plasenta pengobatan wanita hamil dengan antivirus seperti zidovudine mengurangi kejadian penularan kepada bayi (mother to child fransmission- MTCD secara bermakna. Sampai dengan tahun 1999 satu-satunya obat yang yang dapat mencegah infeksi perinatal adalah azidothimidine (AZT)' diberikan peroral pada kehamilan usia 14 minggu dan diteruskan sampai menjelang kelahiran; diberikan secara intravena pada saat melahirkan; diberikan secara oral pada bayl baru lahir pada 6 minggu pertama. cara-cara ini menurunkaqn transmisi perinatal sebesar 66%. Sedangkan pemberian AZT jangka pendek menurunkan angka transmisi 40%.
Hampir 50 % dari bayi yang'disusui oleh ibu dengan HIV (+) dapat tertular infeksi HlV. petugas feienatan yang terluka oleh jarum suntik atau benda tajam lainnya yang mengandung darah yang terinfeksi virus HlV, angka serokonversi mereka < 0,5 %, lebih rendah dari risiko terkena virus hepatitis B (25%) sesudah terpajan dengan cara yang sama. Penggunaan alat suntik yang tidak aman menyebabkan terjadinya penularan sekitar 5%.
6. Masa inkubasi
Bervariasi. Walaupun waktu dari penularan hingga berkembang atau terdeteksinya antibodi, biasanya 1 - 3 bulan, namun waktu dari tertular HIV hingga teriiagnosa sebagai AIDS sekitar < 1 tahun hingga 15 tahun atau lebih. Tanpa pengobatan anti-HlV yang efektif, sekitar 50 % dari orang dewasa yang terinfeksi akan terkena AIDS dalam 10 tahun sesudah terinfeksi. Mediian masa inkubasi pada anak-anak yang terinfeksi lebih pendek dari orang dewasa.
Bertambahnya ketersediaan terapi anti HlVsejak pertengahan tahun 1990-an mengurangi perkembangan AIDS di AS dan di banyak negara maju secara bermakna. Beberapa fakta di lapangan menunjukan bahwa perkembangan dari infeksiHlV menjadi AlDS lebih cepat ierjadi di negara berkembang dibandingkan negara maju. Namun cepatnya'perkembangan dari infeksi HIV menjadi AIDS tergantung pada usia saat terkena infeksi HIV dewasa muda dan orang dewasa yang mendapat infeksi HIV pada usia lebih muda lebih lambat menjadi AIDS jika infeksi terjadi pada usia lebih tua. Perkembangan penyakit juga tergantung pada sub tipe virus.
7. Masa penularan
Tidak diketahui, diperkirakan mulai berlangsung segera sesudah infeksi HIV dan berlangsung seumur hidup. Bukti-bukti epidemiologis menyatakan bahwa infektivitas meningkat dengan bertambahnya viral load, adanya defisiensi imunologis, gelala-gejala klinis yang memburuk dan adanya penyakit menular seksual (PMS) lainnya. Studi epidemiologis menyatakan bahwa infektivitas menjadi tinggi selama bulan-bulan awal sesudah infeksi. Ditemukannya virus bebas atau virus dalam sel didalam sekret, PMS dengan ulkus atau inflamasi merupakan faktor risiko.
8. Kerentanan dan kekebalan
Tidak diketahui, tetapi semua orang diduga rentan : ras, jenis kelamin dan kehamilan tidak mempengaruhi suseptibilitas terhatap infeksi HIV atau AIDS. Adanya sTD lain, terutama kalau ada ulcus, menambah suseptibilitas, begitu juga pada pria yang tidak dikhitan dan tidak higienis. Faktor terakhir ini terkait bengan masalah kebersihan penis. Mengapa penduduk Afrika yang terkena infefeksi HIV lebih cepat berkembangnya menjadi AIDS dibandingkan dengan populasi lain, masih terus dalam penelitian. satu - satunya faktor yang dapat diterima, yang mempengaruhi perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS adalah usia pada saat infeksi.
Dewasa muda dan pria serta wanita dewasa yang terinfeksi HIV pada usia muda, biasanya lambat menderita AIDS, dibandingkan jika terinfeksi pada usia lebih tua. Adanya potensi interaksi antara infeksi HIV dengan infeksi penyakit lainnya menjadi masalah kesehatan masyarakat yang memprihatinkan. Lnterkasi utama yang sampai saat ini diketahui adalah interaksi HIV dengan Mycobacterium m Tuberculosis (Mtbc) Mereka yang didalam tubuhnya mengidap infeksi MTbc laten, jika terinfeksi HlV akan berkembang menjadi penderita TB klinis dengan cepat.
Dikatakan risiko seorang dewasa terkena TB adalah 10%, namun jika mereka terinfeksi HlV maka risikonya menjadi 60 - 80% terkena TB atau 6-g kali. Interaksi antara HIV dengan Mtbc mengakibatkan terjadinya pandemi TB paralel dengan HlV/AlDS. Di negara-negara sub Sahara didaerah perkotaan 10-1 5 % orang dewasa mengalami infeksi HIV dan Mtbc secara bersamaan ("Dual lnfection"), didaerah ini angka prevalensi TB meningkat 5-10 kali lipat pada pertengahan tahun 1990 an.
Tidak ada bukti konkiusif yang menunjukkan bahwa infeksi lain termasuk TB mempercepat perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS. lnteraksi infeksi HIV dengan penyakit lain yang menimbulkan gejala klinis yang berat antara lain infeksi pneumococcus, salmonellosis nonlyphi, malaria fatciparum dan visceral leishmaniasis (kala-azhar). Belakangan ini banyak bukti menunjukkan bahwa adanya chemokine-receptor polymorphisms pada seseorang, menurunkan tingkat kerentanan.
9. Cara-cara Pencegahan
A. Upaya Pencegahan
Program pencegahan HIV/AIDS hanya dapat efektif bila dilakukan dengan komitmen masyarakat dan komitmen politik yang tinggi untuk mencegah dan atau mengurangi perilaku risiko tinggi terhadap penularan HlV. Upaya pencegahan meliputi :
1)Pemberian penyuruhan kesehatan di sekorah dan di masyarakat . harus rnenekankan bahwa mempunyai pasangan seks yang berganti-ganti serta penggunaan alat suntik bergantian dapat meningkatkan risiko terkena infeksi HlV. pelajar dan pemuda juga harus dibekali pengetahuan bagaimana untuk menghindari atau mengurangi kebiasaan yang mendatangkan risiko terkena infeksi HlV.
Program untuk anak sekorah harus dikembangkan sedemikian rupa sesuai dengan perkembangan mental serta kebutuhan mereka, begltu juga bagi mereka yang tidak sekolah. Kebutuhan kelompok minoritas, orang-orang dengan bahasa dan budaya yang berbeda, bagi penderita tuna netra serta tuna rungu juga harui dipikirkan.
2) satu-satunya jalan agar tidak terinfeksi adarah dengan tidak melakukan hubungan seks atau hanya berhubungan seks dengan satu orang yang diketahui tidak mengidap infeksi. pada situasi lain kondom lateks harus digunakan dengan benar setiap kali seseorang melakukan hubungan seks secara vaginal, anal atau oral. Kondom lateks dengan pelumas berbahan dasar air dapat menurunkan risiko penularan melalui hubungan seks.
3) Memperbanyak fasilitas pengobatan bagi pecandu obat terlarang akan mengurangi penularan HlV. Begitu pula program “Harm reduction"yang menganjurkan para pengguna jarum suntik untuk menggunakan metode dekontaminasi dan menghentikan penggunaan jarum bersama telah terbukti efektif menurunkan penularan HlV.
4) Menyediakan fasilitas Konseling dan testing HIV dimana identitas penderita dirahasiakan atau dilakukan secara anonimus serta menyediakan tempat-tempat untuk melakukan pemeriksaan darah. Fasilitas tersebut saat ini telah tersedia di seluruh negara bagian di AS. Konseling, tes HIV secara sukarela dan rujukan medis dianjurkan dilakukan secara rutin pada klinik keluarga berencana dan klinik bersalin, klinik bagi kaum homo dan terhadap komunitas risiko tinggi dimana seroprevalens HIV tinggi.
Orang yang aktivitas seksualnya tinggi disarankan untuk mencari pengobatan yang tepat bila menderita Penyakit Menular Seksual (PMS). Konseling terhadap pasangan menikah dan yang akan menikah, serta terhadap mereka yang merasa khawatir ("worried well').
5) setiap wanita hamil sebaiknya sejak awal kehamilan disarankan untuk dilakukan tes HIV sebagai kegiatan rutin dari standar perawatan kehamilan. lbu dengan HIV positif harus dievaluasi untuk memperkirakan kebutuhan mereka terhadap terapi ARV seperti zidovudine (ZDV) untuk mencegah penularan HIV melalui uterus dan perinatal. Ada bukti-bukti menunjukkan bahwa pada pemberian ASI eksklusif risiko penularan HIV meolalui ASI lebih kecil jika dibandingkan dengan pada pemberian ASI partial.
6)Berbagai peraturan dan kebijakan telah dibuat oleh USFDA, untuk mencegah kontaminasi HIV pada plasma dan darah. Semua darah donor harus diuji antibodi HIV-nya. Hanya darah dengan hasil tes negatif yang digunakan.
Orang yang mempunyai kebiasaan risiko tinggi terkena HIV sebaiknya tidak mendonorkan plasma, darah, organ-organ untuk transplantasi, sel atau jaringan (termasuk cairan semen untuk inseminasi buatan). lnstitusi (termasuk bank sperma, bank susu atau bank tulang) yang mengumpulkan plasma, darah atau organ harus menginformasikan tentang peraturan dan kebijakan ini kepada donor potensial dan tes HIV harus dilakukan terhadap semua donor. Apabila mungkin, donasi sperma, susu atau tulang harus dibekukan dan disimpan selama 3 _ 6 bulan. Donor yang tetap negatif setelah masa itu dapat di asumsikan tidak terinfeksi pada waktu menjadi donor.
7) Jika hendak melakukan transfusi, dokter harus melihat kondisi Pasien dengan teliti apakah ada indikasi medis unluk transfusi. Transfusi otologus sangat dianjurkan.
8) Hanya produk iaktor pembekuan darah yang sudah di seleksi. Dan Yang tetah diperlakukan dengan semestinya untuk menonaktifkanHIV yang bisa digunakan.
9) Sikap hati-hati harus dilakukan pada waktu penanganan pemakaian dan pembuangan jarum suntik atau semua jenis alat alat yang berujung tajam lainnya agar tidak tertusuk.
Petugas kesehatan harus menggunakan Sarungtangan lateks, pelindung Mata dan alat pelindung lainnya untuk menghindari kontak dengan darah atau cairan yang mengandung darah. Setiap tetes darah pasien yang mengenai tubuh petugas kesehatan harus dicuci dengan air sabun sesegera mungkin. Kehati-hatian ini harus di lakuk an pada semua pasien dan semua prosedur laboratorium (tindakan kewaspadaan universal).
10) WHO merekomendasikan pemberian imunisasi bagi anak-anak dengan infeksi HIV tanpa gejala dengan vaksin-vaksin EPI {EXPANDED PROGRAMME ON IMMUNIZATION); anak-anak yang menunjukkan gejala sebaiknya tidak mendapat vaksin BCG. Di AS BCG dan vaksin oral polio tidak direkomendasikan untuk diberikan kepada anak-anak yang terinfeksi HlV tidak perduli terhadap ada tidaknya gejala, sedangkan vaksin MMR (measles-mumps-rubella) dapat diberikan kepada anak dengan infeksi HIV.
B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitarnya
1) laporan kepada instansi kesehatan setempat; mengirimkan laporan resmi kasus AlDS adalah wajib disemua jajaran kesehatan di AS dan hampir di semua negara di dunia. Sebagian besar negara bagian di AS menerapkan sistem pelaporan infeksi HIV.Laporan resmi mungkin dibutuhkan di berbagai negara atau provinsi.
2) lsolasi; mengisolasi orang dengan HIV positif secara terpisah tidak perlu, tidak efektif dan tidak dibenarkan. "Universal Precaution''(kewaspadaanuniversal)(q v)diterapkan untuk semua penderita yang dirawat. Tindakan kewaspadaan tam bahan tertentu perludilakukanpadainfeksispesifikyangterjadipadapenderita AIDS.
3). Disinfeksi serentak; dilakukan terhadap alat alat yang terkontaminasi dengan darah atau cairan tubuh dengan menggunakan larutan pemutih (chlorine) atau germisida tuberkulosidal yang efektif terhadap M. tuberculosls.
4). Karantina; tidak diperlukan. Penderita HIV/AIDS dan pasangan seks mereka sebaiknya tidak mendonasikan darah, plasma, organ untuk transplantasi, jaringan, sel, semen untuk inseminasi buatan atau susu untuk bank susu manusia.
5). lmunisasi dari orang orang yang kontak; tidak ada.
6). lnvestigasi terhadap kontak dan sumber infeksi; Di AS pasangan seks dari para penderita HIV/AIDS atau pasangan pengguna jarum suntik bersama, bila memungkinkan, di laporkan sendiri oleh si penderita. Rujukan oleh petugas di benarkan bila pasien, sesudah dilakukan konseling, tetap menolak untuk memberitahukan pasangan seks mereka, dan untuk itu petugas harus betul-betul yakin bahwa tidak akan terjadi sesuatu yang membahayakan kasus indeks bila pasangannya diberitahu. Tindakan yang sangat hati-hati harus dilakukan untuk melindungi kerahasiaan penderita.
7). Pengobatan spesifik: di sarankan untuk melakukan diagnosa dini dan melakukan rujukan untuk evaluasi medis. Rujuklah sumber informasi mutakhir tentang obat yang tepat, jadwal dan dosisnya.
Pedoman pengobatan HIV/AIDS yang selalu diperbaharui setiap saat tersedia pada "CDC National Clearing house" (1-800458-5231) dan dapat diakses melalui Clearing house World Wide Website (http:www.cdcnpin.org), website WHO dan UNAIDS.
a) Sebelum ditemukan pengobatan antiretrovirus yang relatif efektif, dan tersedia secara rutin di AS sekitar tahun 1990-an, pengobatan yang ada pada waktu itu hanya ditujukan kepada penyakit oppoftunistic yang diakibatkan oleh infeksi HlV. Penggunaan TMP-SMX oral untuk tujuan profilaktik, dengan pentamidin aerosol sebagai back up yang agak kurang efektif, direkomendasikan untuk mencegah pneumonia p. carinii. Semua orang yang terinfeksi HIV terhadap mereka harus dilakukan tes tuberkulin dan dievaluasi apakah mereka penderita TBC aktif. Jika diketahui menderita TB aktif, pasien harus diberi terapi anti tuberkulosa. Jika bukan TB aktif, pasien dengan tes tuberkulin positif atau yang anergik tetapi baru saja terpajan dengan TB harus diberikan terapi dengan isoniazid untuk 12 bulan (dewasa ini bervariasi secara individual).
b) AIDS harus ditangani sebagai penyakit kronis; dan harus diingat. bahwa pengobatan dengan ARV adalah sangat kompleks, merupakan terapi kombinasi; penggunaan teripi ARV single mempercepat terjadinya resistensi. ARV merupakan obat yang toksik dan harus diminum seumur hidup, disiplin minum obat merupakan kunci sukses pengobatan. Pengobatan dengan ARV tidak untuk menyembuhkan namun untuk menekan replikasi virus. Keputusan untuk memulai atau merubah terapi antiretrovirus harus di pandu dengan memonitor hasil pemeriksaan parameter laboratorium baik Plasma HIV RNA (viral load) maupun jumlah sel CD4+T dan dengan melihat kondisi klinis dari pasien. Hasil dari dua parameter ini memberikan informasi penting tentang status virologi dan imunologi dari pasien dan risiko dari perkembangan penyakit menjadi AIDS. Sekali keputusan untuk memberi terapi antiretrovirus diambil, pengobatan harus di lakukan dengan agresif dengan tujuan menekan virus semaksimal mungkin. Pada umumnya, harus diawali dengan penggunaan inhibitor protease dan dua inhibitor "non nucleoside reverse transcriptase". Regimen lain mungkin digunakan tetapi dianggap kurang optimal. Pertimbangan spesifik di berikan kepada orang dewasa dan wanita hamil, dan bagi pasien pasien ini sebaiknya digunakan regimen pengobatan spesifik.
c) Hingga pertengahan tahun 1999, satu-satunya obat yang dapat mengurangi risiko penularan HlV.perinatal hanya AZI dan di berikan sesuai dengan regimen berikut: diberikan secara oral sebelum kelahiran, mulai 14 minggu usia kehamilan dan diteruskan sepanjang kehamilan, diberikan intravena selama periode intra-partum; diberikan oral bagi bayi baru lahir hingga berusia 6 minggu. Regimen "chemoprophylactic" ini menurunkan risiko penularan HIV hingga 66 "k. Terapi AZT yang lebih singkat mengurangi risiko penularan hingga 40%.
Dari studi di Uganda, dilaporkan bahwa pada bulan Juli 1999 dosis tunggal nevirapine yang diberikan kepada ibu yang terinfeksi HIV diikuti dengan dosis tunggal kepada bayi hingga berusia 3 hari, memberi hasil yang lebih baik dibandingkan dengan kedua terapi diatas. Hanya 13,1% dari bayi yang mendapat terapi nevirapine yang lerinfeksi HlV, dibandingkan dengan 25,1 % dari kelompok yang mendapat terapi AZT. Harga Neviraprne kurang dari 4 dolar satu dosisnya, sehingga prospek untuk melindungi penularan ibu ke anak di negara berkembang lebih memungkinkan di era milenium ini.
Namun, kurang tersedianya fasilitas tes HIV dan jasa konsultasi bagi wanita hamil di negara-negara berkembang yang termiskin di Af rika tetap merupakan sebuah tantanEan yang berat. Disamping itu kurang tersedianya pengobatan anti HIV bagi orang dewasa membuat angka anak-anak yang menjadi yatim piatu bertambah di negara-negara ini.
d) Kewaspadaan untuk mengurangi risiko tertulari harus ditekankan dan diterapkan di seluruh fasilitas kesehatan. Manajemen terhadap tenaga kesehatan yang sehari-harinya terpajan darah dan cairan tubuh yang mungkin mengandung virus HIV sangat kompleks. Sifat pajanan dan faktor-faktor seperti kemungkinan hamil dan strain HIV yang resisten terhadap obat harus dipertimbangkan sebelum Profilaksis HIV pasca pemajanan (Postexposure prophylaxis = PEP) di berikan. Akhir tahun 1999, pemberian PEP yang dianjurkan termasuk pemberian regimen dasar selama 4 minggu yang terdiri dari 2 jenis obat (zidovudine danramivudine ) untuk semua jenis pemajanan HlV, termasuk juga regimen yang telah dikembangkan, dengan tambahan protease inhibitor (indinavir atau nelfinavir) yang ditujukan bagi orang yang terpajan kuman HIV yang keberadaannya membuat meieka ilempunyai risiko tinggi terturar atau untuk mereka yang diketahui atau dicurigai resisten terhadap satu atau rebih obat antiretrovirar yang direkomendasikan untuk PEP. lnstitusi pelayanan kesehatan seharusnya mempunyai pedoman yang mempermudah dan memberikan akses yang tepat untuk perawatan pasca pemajanan bagi petugas kesehatan dan pengembangan sistem pencatatan dan pelaporan peristiwa pemajanan.
C) Penanggulangan wabah
HIV saat ini sudah pandemik, dengan jumlah penderita yang sangat besar di raporkan di Amerika, Eropa,-Afrika dan Asia Tenggara. Lihat cara-cara pencegahan 9A di atas untuk rekomendasi.
D) lmplikasi bencana
Petugas emergensi harus mengikuti prosedur kewaspadaan universar, jika sarung tangan rateks tidai tersedia dan permukaan kulit kontak dengan darah, harus dicuci sesegera mungkin. Masker, kacamata pelindung dan pakaian pelindung di slrankan untuk dipakai ketika melakukan tindakan yang bisa menyeoabkan semburan atau percikan darah atau cairan lubuh. Transfusi untuk keadaan darurat sebaiknya menggunakan darah donor yang telah diskrining terhadap antibodi HlV, jika uji saring tidak mungkin dilakukan mJka donasi sebaiknya di terima hanya dari donor yang tidak mempunyai peritaku yang memungkinkan terinfeksi oleh HlV, dan lebih disukai iono, yang sebelumnya terbukti negatif untuk antibodi HlV.
E) Tindakan lnternasional
Program pencegahan dan pengobatan global dikoordinasi oleh WHO yang dimurai pada tahun 1987. Sejak tahun 1995, program AIDS global dikoordinaslkan oleh UNAIDS. Sebenarnya semua negara di seluruh dunia telah mengembangkan program perawatan dan pencegahan AIDS. Beberapa negara telah melembagakan keharusan pemeriksaan AIDS atau HIV untui masuknya pendatang asing (terutama bagi mereka yang meminta visa tinggal atau visa yang lebih panjang, seperti visa belajar atau visa kerja) WHO dan UNAIDS belum mendukung tindakan ini.
PEMBAHASAN DIABETES MELITUS
(ENDOGEN)
1) Diabetes melitus (DM)
Kencing manis Pada tahun 1552 sebelum masehi, di Mesir dikenal penyakit yang ditandai dengan sering kencing dan dalam jumlah yang banyak ( yang disebut : Poliurial ), dan penurunan berat badan yang cepat tanpa disertai rasa nyeri. Kemudian pada tahun 400 sebelum masehi, penulis India sushratha menamakan penyakit tersebut : penyakit kencing manis.
Akhirnya, Aretaeus pada tahun 200 sebelum masehi adalah orang yang pertama kali memberi nama : Diabetes, berarti “mengalir terus”, dan Mellitus berarti “manis”. Disebut Diabetes, karena selalu minum dan dalam jumlah banyak ( Polidipsia ), yang kemudian “mengalir” terus berupa air seni ( urine ); disebut Mellitus karena air seni penderita ini mengandung gula ( manis ).
Pada dasarnya, Diabetes Mellitus (DM) atau penyakit kencing manis disebabkan hormon INSULIN penderita tidak mencukupi, atau tidak dapat bekerja normal, sedangkan hormon insulin tersebut mempunyai peranan utama untuk mengatur kadar glukosa ( = gula ) didalam darah sekitar 60 – 120 mg/dl waktu puasa dan di bawah 200 mg/dl pada dua jam sesudah makan.
Sejak ditemukan hormon insulin pada tahun 1921 oleh Banting dan Best di Kanada, maka angka kematian dan keguguran ibu-ibu diabetes yang hamil makin berkurang. Akhirnya pada tahun 1954 Franke dan Fuchs mencoba tablet OAD ( Obat Anti Diabetes ) pada manusia, yang akhirnya temuan OAD ini berkembang pesat dengan berbagai jenis dan indikasi penggunaanya.Maksud informasi ini bukanlah untuk membuat takut bagi pembaca terhadap komplikasi yang mungkin terjadi pada penderita Diabetes Mellitus, melainkan bertujuan agar pembaca :
1. Mengenal apakah Diabete Mellitus itu.
2. Mengetahui bahwa Diabetes Millitus adalah penyakit yang tidak berbahaya asal tidak diremehkan.
3. Terlatih untuk melakukan usaha pencegahan terhadap Diabets Mellitus.
4. Mengetahui bahwa diit memegang peranan utama dalam pengobatan Diabetes Mellitus.
5. Dapat melaksanakan diit diabetes yang benar, agar yang terkena Diabetes Mellitus dapat sehat kembali.
APAKAH PENYAKIT DIABETES MELLITUS ITU?
Seperti telah disebut diatas bahwa hormon insulin yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas (kelenjar pankreas terletak di lekukan usus dua belas jari ) sangat penting untuk menjaga keseimbangan kadar gula ( glukosa ) darah antara 60 – 120 mg/dl waktu puasa dan kadar gula dalam dua jam sesudah makan di bawah 200 mg/dl. Apabila terdapat gangguan kerja insulin, baik kualitas maupun kualitas, maka keseimbangan tersebut akan terganggu dan kadar gula darah cenderung naik.
Seseorang sudah dapat disebut Diabetes Mellitus apabila menderita 2 dari 3 yang tersebut di bawah ini:
1. Keluhan haus, banyak minum, banyak kencing, penurunan berat badan.
2. Kadar gula darah lebih dari 120 mg/dl, pada waktu puasa.
3. Kadar gula darah lebih dari 200 mg/dl, 2 jam sesudah makan.
Karena kadar gula darah meningkat, maka kelebihan gula ( glukosa ) tersebut akan dikeluarkan melalui air seni dan terjadilah glukosuria ( yaitu adanya glukosa – gula di dalam air seni ); pada orang normal tidak terdapat glukosa di dalam air seninya.
Adanya gula di dalam air seni ini dapat diketahui dengan beberapa cara, antara lain :
1. Air seni penderita tersebut segera didatangi semut karena mengandung gula
2. Adanya rasa manis di air seni ( Dr. Thomas Willis dari Inggris pernah mencoba menjilatinya )
3. Timbul rasa gatal di kemaluan pada bekas kencing
Dan yang paling tepat adalah pemeriksaan terhadap adanya glukosa atau gula di dalam air seni, dengan cara :
A. Reaksi Fehling ( reaksi rebus )
B. Kertas strip yang disebut BM test
C. Kertas strip lain : Glukotest
D. Kertas strip yang disebut Diastix
E. Reaksi dengan tablet, yaitu dengan Clinitest.Salah satu atau beberapa cara ( a, b, c, d ) tersebut biasanya telah diketahui oleh penderita Diabetes Mellitus.
Penyakit Diabetes Melitus atau yang umum sebut penyakit “Kencing Manis”, atau “Penyakit Gula Darah” sekarang ini sudah menjadi penyakit “sejuta umat”….
Mengapa demikian? Hal ini banyak disebabkan oleh Life Style Modern/Pola Hidup Modern yang terbiasa dengan mengkonsumsi Fast Food, Goreng gorengan, Rasa Gurih/berlemak, kurang buah dan sayuran…
Disamping itu masyarakat umumnya menganggap bahwa penyakit Kencing Manis hanya diakibatkan terlalu banyak makan minum yang manis manis, sehingga cara mencegah dan mengobatinya cukup dengan diet makanan dan minuman yang manis manis atau mengandung banyak karbohidrat (nasi dan sejenisnya)…sehingga dianggap tidaberbahaya…
Sebenarnya kalangan kedokteran menamakan penyakit Diabetes Melitus sebagai “Mother Of Deases”…”Ibu Dari Berbagai Penyakit…”
Mengapa dinamakan demikian?…Karena bila seseorang sudah mengidap penyakit kencing manis, berarti darahnya tercemar oleh gula yang menyebar keseluruh organ tubuh penting lainnya dan merusak organ tersebut.
Organ apa saja yang bisa dirusak?…
Pertama adalah Otak…orang akan menjadi menderita pikun/pelupa …
Kedua adalah mata…orang akan menderita rabun mata sampai buta…
Ketiga ginjal, orang akan menderita gagal ginjal dan harus cuci darah…
Keempat alat kelamin, untuk pria akan menderita impoten….
Dan banyak yang lain lagi…
Benarkah pengobatannya cukup dengan diet minum dan makan yang manis manis atau yang bisa berubah menjadi glukosa dalam darah?…..Sepengetahuan saya jawabnya adalah tidak benar!!!
Diet tersebut hanya akan menjaga penyakit tidak semakin parah dan menunda kerusakan organ yang rusak….
Sebenarnya apa yang harus dilakukan?…
Yang harus dilakukan adalah ia harus mengobati organ Pankreasnya yang berfungs menghasilkan Insulin yang akan memproses metabolisme gula yang ada dalam darah menjadi enerji ( Glukosa diproses menjadi glukogen yang diperlukan untuk energi dalam aktivitas otot dll)…
Apa obat Pangkreas?…banyak, tapi pilihlah yang bukan kimiawi, cari yang organik…agar tidak menghasilkan limbah racun yang akan merusak Lever dan Ginjal…
Herbal yang sering digunakan mengobati penyakit kencing manis seperti daun salam; ramuan rebusan daun jambu, kunyit putih dan rambut jagung dll sebenarnya hanya memiliki efek mengurangi kadar gula dalam darah, tidak memperbaiki Pankreasnya !!!
Untuk memperbaiki Pankreas, harus dilakukan upaya serius, yaitu disamping diet yang ketat terhadap makanan dan minuman yang mengandung gula dan karbohidrat, juga harus olah raga rutin dibawah sinar matahari pagi antar jam 6-8 , serta mengkonsumsupelmen yang mengandung omega 3(minyak ikan laut dalam, sunclorela, crypto, ikan salmon dll)…
Olahraga rutin setiap hari dibawah matahari pagi akan menyerap Sinar Far Infra Red (Biofir) yang sangat bermanfaat membantu proses metaolisme tubuh secara sangat efektif)…akan membantu oroses perbaikan dan pembuatan sel baru organ tubuh yang rusak….
Demikian juga 0mega 3 akan membantu proses metabolisme pembentukan sel baru organ tubuh yang rusak dan melindungi inti sel organ tubuh kita…
Diet ketat akan membantu menurunkan kadar gula dalam darah agar metabolisme tubuh menjadi lebih lancar daqn mengurangi pencemaran gula pada organ tubuh yang rusak….
Jadi yang harus dilakukan adalah:
Lakukan positif thinking; Olah raga rutin/intensif dibawah sinar matahari pagi antara jam 6-8 pagi; Diet ketat mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula/karbohidrat; Makan dan minum supelmen mengandung Omega 3 tinggi; Secara berangsur mengurangi obat kimiawi dan menggantinya dengan supelmen herbal dalam dosis yang tepat…
Dari semua hal yang disebut diatas, menurut pengalaman saya, pengaruh olah raga rutin dibawah sinar matahari pagi adalah yang sangat mudah, murah dan efektif, tidak mengandung resiko apapun, tapi justru memperkuat jantung dan paru paru…
2). Prevalensi Penderita Diabetes
Salah satu penyakit yang erat berkaitan dengan pola hidup tidak sehat adalah diabetes. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), lebih dari 220 juta orang di seantero dunia mengidap diabetes. bahkan 90 persen penderita diabetes tipe dua (diabetisi) di dunia banyak terkait problem berat badan berlebih dan kurang aktivitas fisik.
Masih dari data WHO, hampir 50 persen kasus kematian karena diabetes terjadi di bawah umur 70 tahun; 55 persen di antaranya terjadi pada wanita. Bahkan, WHO memprediksi angka kasus kematian karena diabetes akan bertambah dua kali pada rentang tahun 2005 hingga 2030.
Sementara itu, prevalensi penderita diabetes di Indonesia menunjukkan tren meningkat. Diperkirakan 11,98 juta orang menjadi penderita diabetes. Tambahan lagi, Persadia memperkirakan sekitar 50 persen diabetisi belum terdiagnosis. Hal ini perlu menjadi perhatian dan kesadaran bersama.
3).Penyebab Diabetes
Faktor risiko diabetes banyak terjadi pada keluarga yang memiliki riwayat menderita diabetes. Di sisi lain berat badan berlebih (indeks massa tubuh lebih dari 23 kg/m2), kurang aktivitas fisik, hipertensi, atau diet tinggi gula rendah serat. Untuk pola konsumsi yang kurang sehat, yakni dengan karbohidrat berlebih, juga bisa menjadi penyebab. Pasalnya, orang Indonesia lazim mengonsumsi makanan berkarbohidrat.
Kita akan merasa aman untuk mengonsumsi nasi dengan kentang atau mi sebagai lauknya supaya cepat kenyang. Padahal sesungguhnya kedua makanan itu sama-sama mengandung karbohidrat sehingga asupan karbohidrat menjadi berlebihan. Selain itu, kebiasaan sebagian masyarakat Indonesia yang banyak mengonsumsi gula turut memperburuk keadaan. Pagi hari minum segelas teh manis, agak siang dan sore minum segelas kopi manis. Selanjutnya, sesudah makan siang, makan puding manis, dan saat bertamu disuguhi segelas sirup manis. Kalau semua itu dikonsumsi dalam sehari, begitu banyak konsumsi gula yang bisa membahayakan kesehatan.
4). Pola Makan Sehat
Perubahan gaya hidup ke arah yang lebih sehat dapat dilakukan melalui peningkatan aktivitas fisik dengan berolahraga dan juga diet dengan mengurangi asupan karbohidrat serta menjaga berat badan ideal. Oleh karena itu, tentunya kita perlu pandai-pandai memilih jenis karbohidrat juga untuk jumlahnya. Hindari konsumsi karbohidrat sederhana secara berlebihan. Misalnya gula pasir, madu, sirup, selai, soft drink, dan jajanan manis. Untuk asupan gula pasir, sebaiknya tidak lebih dari lima persen total kalori harian.
Sebaliknya, perbanyak konsumsi karbohidrat kompleks seperti padi-padian, umbi-umbian, sagu, serat, serta gula ada secara alami dari buah, sayuran, dan susu. Prinsip yang dianjurkan yaitu para diabetisi mengasup zat makanan karbohidrat, lemak, dan protein sebanyak masing-masing 45-65 persen, 20-25 persen, dan 10-20 persen dari total kalori dalam makanan sehari.
Untuk mengukur banyaknya asupan karbohidrat, Anda dapat memakai The Idaho Plate Method atau Zimbabwe Handjiwe yang diakui para pakar kesehatan. Cara ideal lainnya adalah menggunakan produk makanan yang mencantumkan dengan jelas jumlah dan jenis nutrisi yang terkandung di dalamnya.
Jadi langkah apa yang harus dilakukan sebagai upaya pencegahan supaya kita tidak terserang penyakit Diabetes melitus ? Kita musti ingat pedoman hidup sehat yaitu " LEBIH MENCEGAH DARIPADA MENGOBATI " . Berikut dibawah ini ada beberapa petunjuk untuk menjalani hidup sehat, yaitu :
1. Rutin melakukan olah raga pagi misalnya jogging, senam Tai Chi, senam Qi Gong , bersepeda santai, atau berenang.
2. Hindari makanan yang mengandung lemak / kolesterol yang banyak dijumpai pada makanan fast food, dan durian, mlinjo dan lain sebagainya
3. Sebaiknya menggunakan gula rendah kalori, seperti gula dari jagung
4. Hindari makanan atau minuman yang terbuat dari bahan - bahan artifisial dan banyak mengandung gula / karbohidrat seperti soft drink, dan ayam horen yang banyak disuntik hormon kimia supaya cepat gemuk.
5. Upayakan untuk makan pada sore hari paling lama jam 5 sore, supaya glukosa yang ada di dalam darah bisa terurai karena kita masih melakukan aktifitas .
6. Jangan lupa banyak minum air putih , sehari maksimal 2,5 liter
7. Upayakan untuk mengkonsumsi makanan berserat tinggi, seperti jeruk keprok, biji - bijian, dan sayuran.
8. Upayakan selalu berpikir positif , relax / tidak spaneng dalam menyikapi suatu persoalan yang sedang kita hadapi
9. Selalu bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa , atas semua rejeki dan kesehatan yang diberikan oleh-NYA. Dan musti tetap tawakal dan bersyukur juga meskipun kita sedang menghadapi suatu permasalahan yang pelik sekalipun, dan lain sebagainya.
Semua yang telah diuraikan di atas akan berjalan sebagaimana mestinya jika kita memang benar - benar ingin menjaga kesehatan tubuh kita supaya tetap sehat selalu yaitu dengan niat yang sepenuh hati untuk menjalani pola hidup sehat. Jika kita bijaksana dalam menjaga kesehatan diri kita sendiri, seyogyanya kita selalu merealisasikan pedoman hidup supaya kita bisa menjaga kesehatan kita yaitu LEBIH BAIK MENCEGAH DARIPAD MENGOBATI PENYAKIT APAPUN JENISNYA ! !
V